Rabu, 13 Desember 2017

Tentang Social Media


Gambar dari sini

Akhir-akhir ini saya sering berpikir tentang social media. Bukan pikiran yang berat-berat, sih. Tapi pikiran yang receh-receh saja. Seperti, "Apa social media favoritmu?" Kalau saya sendiri, yang menjadi favorit saya sebenarnya blog (walaupun sering ditinggal-tinggal), kedua instagram, lalu twitter. Facebook pernah menempati posisi kedua setelah blog, tapi tidak lagi, menurut saya facebook sudah terlalu riuh. Mirip mall, dimasuki hanya jika saya mencari sesuatu yang tidak bisa saya temukan di tempat lain. Btw, saya juga punya Path tapi Path tidak saya masukkan ke dalam list ini karena #imho Path memiliki keriuhan yang sama dengan facebook. Luar biasa, kan? Dengan jumlah teman yang terbatas, feed yang dibagikan bisa menimbulkan keriuhan yang sama dengan facebook. Kenapa ya? Mungkin lain kali saya harus memikirkan ini lebih lanjut...*padahal malas

Facebook itu saya umpakan sebagai teras depan di mana banyak orang yang akan mampir. Jumlah teman di facebook saya pun paling banyak dibanding socmed yang lain karena biasanya apabila ada friend request yang mutual friendsnya cukup banyak dan terhubung dalam satu komunitas yang saya percaya, saya pasti akan approve friend requestnya. Namun, karena itu adalah teras rumah, tentu akan terbatas juga hal-hal yang bisa saya bagikan. Eh, tapi dulu sebelum menikah, saya pernah alay juga sih. Bete dikit sama Om Taurus, update status. Sendirian di kamar, upload foto-foto selfie, nulis puisi sedikit, posting di notes-nya facebook. Padahal pusinya jelek banget kalau dilihat sekarang. Yah, kita memang pernah 4L4Y pada masanya, ya kan? Tapi intinya sekarang, saya menempatkan facebook sebagai teras rumah. Silakan berkunjung dan lihat-lihat, tapi insya Alloh saya tidak akan membuat teman-teman saya terganggu dengan segala kebaperan dan foto-foto muka saya yang segede gaban. Btw, Gaban itu robot Jepang yang pesawatnya tempurnya segede gaban #eh. Tapi sekali-kali saya tetap akan share hal-hal yang menghibur, sedikit foto-foto untuk pelepas rindu teman-teman saya (anjir pede), dan promosi tulisan-tulisan saya yang akan berpengaruh ke kantong tentunya. 

Bergantian dengan facebook untuk menempati posisi ke-3, socmed favorit berikutnya adalah twitter. Well, saya tidak terlalu cerewet di twitter. Bahkan sekarang-sekarang sudah sangat jarang membuka twitter tapi twitter adalah socmed yang membawa saya kembali ke dunia menulis. Selain itu, karena saya memfollow orang-orang yang tepat, twitter, seberapa lama pun saya tinggalkan selalu menjadi tempat yang menyenangkan untuk didatangi kembali. 

Lalu, ada instagram. Kenapa instagram menjadi favorit saya yang nomor dua? Instagram itu saya ibaratkan jendela. Banyak hal-hal bagus yang bisa saya lihat dari sana. Karena instagram memang diperuntukkan untuk pamer foto-foto yang bagus dan juga fokus ke aplikasi edit-mengedit. Walaupun ke sini-sininya instagram jadi menyerupai path karena menjadi tempat untuk posting kegiatan sehari-hari yang biasa-biasa saja tapi fortunately dia tidak benar-benar menyerupai path yang bisa memberitahu kita siapa saja yang melihat foto kita. Fyuuuuh...Tapi baru beberapa bulan ini (iya, gue telat!) saya mencoba fitur instastory di mana kita bisa share kegiatan kita lewat video/gambar/boomerang dan juga bisa mengetahui siapa saja yang melihat instastory saya. Tapi walaupun bisa melihat siapa yang melihat (eh, gimana sih?), tapi tidak ada tombol love or like or laugh di sana. Jadi it's okay lah...

The last. BLOG. Kenapa dia begitu istimewa? Blog, seperti halnya socmed lainnya, tentu bukan ruang pribadi. Apa yang saya tulis di dalamnya tentu adalah hal-hal yang telah saya pertimbangkan untuk layak dibaca oleh orang lain. Tidak menyinggung orang lain dan dapat saya pertanggungjawabkan. Yang menyenangkan dari blog adalah, mereka yang mampir adalah orang yang benar-benar mau membaca. 

Kalau kamu, apa social media favoritmu?

Kamis, 27 Juli 2017

Membuat Rekening BNI Taplus Anak

Gambar dari sini

Jadi, ceritanya, saya janjian dengan Tan Sis, empunya blog
katjamatahati.wordpress.com untuk posting blog setiap hari Senin dan Kamis. Biar apa? Katanya biar syar'i. Sebenarnya sih biar kedua tante ini sibuk cari kesibukan. Terus terang, sejak tulisan saya disetor ke penerbit, saya merasa ada rutinitas yang hilang. Hari-hari yang tadinya penuh target untuk membaca atau menulis beberapa halaman, jadi hilang arah dan tak tahu jalan pulang #halah. 

Senin, 24 Juli 2017

Tentang Skincare


#skingoals saya nggak muluk-muluk, gini aja udah cukup!
sumber gambar dari sini
Memulai kembali menulis di blog setelah hampir 4 bulan tidak mampir di sini ternyata agak sulit, ya. Membaca tulisan-tulisan beberapa bulan yang lalu, di situ saya terlihat lancar sekali menuangkan isi hati pikiran. Sekarang, bahkan menulis satu kalimat untuk mengawali tulisan ini saja, rasanya bingung. Kalau terlihat lancar, percayalah, ini setelah melalui hari-hari hapus-ketik lagi-hapus- ketik lagi...

Senin, 20 Maret 2017

#DailyGratitude 7 : Tentang Blog Buku Kimi


Ini saya lagi baca buku. SUmber gambar dari sini

Beberapa hari yang lalu saya sempat cerita kalau Si Kimi kasih saya daftar pertanyaan yang banyak banget untuk saya jawab terus saya isi terkait dengan kegemaran saya membaca. Katanya, dia mau mewawancarai saya untuk dia posting di blog bukunya. Duh, saya mimpi apa coba? Kan saya deg-degan kalau dengar kata wawancara. Hahaha...tapi-tapi, terus terang saya mengagumi keteraturan Kimi dalam membangun blog bukunya. Coba aja deh kamu mampir ke sini,  bertaburan review buku yang pernah dia baca dan interview dengan beberapa orang yang juga menyayangi buku. Idenya itu, loh. Kok selalu keren. 

Minggu, 19 Maret 2017

#DailyGratitude 6 : Rawon Eyang

Ini gambar paling mirip sama rawon eyang. Sumber dari sini 

Soal saya dan rawon ini ada sedikit cerita. Dulu, sebelum dekat dengan Om Taurus, saya sama sekali tidak tahu apa itu rasanya rawon. Bentuknya pun saya tidak tahu. Nah, waktu itu sekitar tahun 2007, saya dan Om Taurus bertemu lagi setelah terpisah hampir delapan tahunan #miriptalikasih. Kami makan di sebuah rumah makan di Jogja. Saya lupa namanya. Yang pasti, rumah makan itu menyediakan rawon. Tapi saya tidak memesan rawon, tentu saja. Wong bentuknya saja saya tidak tahu. Om Taurus yang memesan rawon. Saya memesan apa ya? Lupa.