Minggu, 16 Juni 2013

Hijrah

 Tiap orang punya cerita sendiri tentang pengalamannya memulai berjilbab and every story is always stunning. Here is mine....
Hijrah

Berjilbab. Kata yang dari dulu sebenarnya sudah mengusik alam bawah sadar saya. Saya sadar betul akan konsep menutup aurat dalam Islam. Menyadari hal tesebut wajib untuk muslimah, mengetahui kebenarannya tapi tidak melakukannya. Itulah saya dulu.
Pertama kali terlintas dalam benak saya untuk mengenakan jilbab adalah saat saya duduk di bangku kuliah di salah satu Universitas Negeri di Bandung. Semester berapa entah saya lupa. Tapi niat itu tidak berjalan lancar. Sepertinya ada yang salah  saat itu dalam pola pikir saya tentang persiapan untuk berjilbab. Alih-alih memperbaiki ibadah dan menyegerakan berjilbab,saya malah sibuk mempersiapkan hal-hal yang sifatnya tampilan luar semata. Saya mulai menghabiskan  waktu untuk belanja baju-baju muslimah, mulai memesan tangan panjang untuk baju-baju kepanitiaan yang saya ikuti,  mulai mengoleksi jaket dan cardigan, dan hal-hal teknis lainnya. Salahkah? Tidak. Tapi nyatanya yang terjadi adalah saya gagal berjilbab saat itu. Penyebabnya sepele saja, ternyata di balik kehebohan segala persiapan untuk berjilbab itu, saya lupa mempersiapkan diri untuk menguatkan tekad. Jadinya, yang muncul kemudian adalah keragu-raguan. Saya mulai ragu untuk berjilbab. Niat yang tadinya menggebu-gebu itu akhirnya teralihkan dengan seabrek kegiatan menyita waktu. Tanggal yang sudah saya tentukan untuk pertama kali berjilbabpun teralihkan dengan“Ntar aja deh masih ada kegiatan ini/itu“ atau “Kayaknya bulan depan aja pas udah beres semua kegiatan“. Sampai akhirnya niat untuk memulai itu hanya jadi tinggal niat saja. Saat itu saya berpikir,mungkin bukan sekarang waktunya.
Selepas dari kuliah, saya mulai berburu pekerjaan. Niat untuk berjilbab masih terpatri rapi, namun gambaran tentang karir impian berupa perempuan sukses lengkap dengan pakaian kerja formal berupa blazer, rok pendek, dan tas keluaran fashion terbaru membuat niat itu bersembunyi di pojokan hati.
Satu bulan setelah wisuda, rezeki Alloh membawa saya ke sebuah perusahaan retail farmasi di Jakarta dengan jabatan Store Manager. Bukan pekerjaan impian saya sebenarnya. Tapi bagi seorang fresh graduate seperti saya, dorongan untuk lepas secara finansial dari orangtua itu lebih besar daripada dorongan mencari pekerjaan impian. Pekerjaan ini, tidak bisa saya lakoni dengan penampilan seperti wanita karier dalam bayangan saya. Di sini lebih santai saja, cukup kemeja rapi dan celana bahan panjang atau rok bahan. Niat untuk berjilbab mulai berani menampakkan dirinya lagi walau malu-malu. Tapi, lagi-lagi saya dibenturkan oleh kenyataan bahwa perusahaan tempat saya bekerja melarang karyawannya yang di divisi operasional untuk berjilbab. Apabila sudah berjilbab, harus mau melepas jilbabnya saat jam kerja. Itu banyak dilakoni oleh rekan kerja saya. Mereka mengenakan jilbab hanya saat datang dan pulang kerja. Ini memang bukan peraturan yang tertulis, tapi ini harus diikuti.
Saya sadar betul ini adalah sebuah pilihan hidup. Saya sudah terlanjur menandatangani kontrak untuk bekerja selama 18 bulan. Artinya apabila saya mengundurkan diri, saya harus membayar pinalti uang yang tidak sedikit. Jadi dipertempuran ini, dunia pemenangnya. Saya meneruskan bekerja di perusahaan itu selama lebih dari dua tahun. Tidak lama selepas saya keluar dari perusahaan itu, akhirnya ada kebijakan baru yang mengizinkan penggunaaan jilbab saat bekerja. Alhamdulillah. Lagi-lagi dalam hati saya berkata, mungkin memang bukan saat itu waktunya.
Dua tahun yang panjang. Saya resmi keluar dari perusahaan itu setelah saya menikah dengan alasan jam kerja shift di perusahaan tersebut akan menjadi masalah dalam kehidupan rumah tangga saya nantinya. Itu saya hindari.  Lalu bagaimana dengan niat saya untuk berjilbab? Sebenarnya setelah menikah niat itu semakin besar, ditambah suami sudah mulai bertanya ‚“Kapan kamu mau mulai berjilbab?“. Pertanyaan itu hanya saya jawab dengan ‚“Soon“.
Dua minggu setelah keluar dari perusahaan retail farmasi tersebut, saya diterima bekerja di sebuah klinik kecantikan ternama di Jakarta sebagai Unit Manager. Namun, lagi-lagi niat saya diuji. Tidak ada peraturan tertulis tentang apakah seorang Unit Manager tidak boleh berjilbab. Tapi itulah yang terjadi. Ini ujian yang cukup berat karena ini bisa dibilang karir impian saya. Gaji yang dua kali lipat dari perusahaan sebelumnya, jam kerja yang cukup bersahabat, fasilitas-fasilitas yang saya dapat, interaksi dengan orang-orang hebat, ilmu-ilmu yang mahal harganya saya peroleh dengan gratis, make-up, fashion, dan hal-hal lain yang wanita suka ada di sini. Intinya,I love this job! Dan dunia menang lagi. Setahun lebih saya bekerja di sana dan menikmati semuanya. Tapi akhirnya saya mundur karena sebuah pilihan.
Pilihan itu hadir dalam wujud seorang bayi di perut saya. Tepat 4 bulan setelah saya bekerja di klinik itu, saya hamil. Sebenarnya tidak ada masalah. Pihak kantor pun menyetujui saya cuti hamil nantinya walau saya belum setahun bekerja. Saya mulai berencana. Nantinya, saat kehamilan memasuki bulan ke 9 saya akan cuti 3 bulan untuk melahirkan di kampung halaman di Bandar Lampung. Kemudian, saya akan mencari pengasuh bayi dan meneruskan bekerja. Perfect plan, sebelum akhirnya suami meminta saya untuk menetap di Bandar Lampung setelah melahirkan. Dia secepatnya akan mengurus kepindahan kerjanya ke ke Bandar Lampung juga. Saya sadar betul kedudukan saya sebagai seorang istri. Suami saya adalah imam. Saya ikuti semua permintaannya yang baik dan tidak dilarang oleh agama. Saya setujui itu. Itu artinya saya akan segera meninggalkan Jakarta. Meninggalkan karir, teman, dan semua kenangan lain tentangnya. Sedikit berat saat itu rasanya, tapi perlahan saya sadari, Jakarta bukan pilihan hidup saya. Bukan juga pilihan suami saya. Saya akan hijrah.
Hijrah. Ya pindah. Bukan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Saya hijrah kembali. Ke kampung halaman saya Bandar Lampung. Surat cuti ke kantor diganti dengan surat pengunduran diri saya. Sedih. Semua staff berinisiatif memberi kenang-kenangan berupa cincin mas putih yang sampai saat ini selalu saya kenakan.
Sedikit mundur ke belakang, di akhir masa kehamilan dan menjelang kepindahan saya ke Bandar Lampung mungkin adalah saat-saat saya dan suami banyak meminta kepada Alloh SWT. Kami rayu Alloh SWT untuk memudahkan semua masalah kami, kami minta kepada-Nya untuk memudahkan proses kelahiran anak pertama kami, kami minta kepada-Nya agar saya dapat melahirkan secara normal, kami mengiba kepada-Nya agar anak kami lahir sehat tanpa kurang satu apapun. Kami terus berusaha untuk mendekatkan diri kami kepada-Nya.Ibadah yang wajib kami perbaiki, ibadah yang sunnah kami jadikan kebiasaan. Tapi, saat melaksanakan semua itu, muncul terus pertanyaan dalam hati saya.
“Apa ini cukup Ya Alloh untuk Engkau mengabulkan doa kami?”
”Apa ini layak saya pinta sementara satu yang wajib belum saya jalankan?”
Pertanyaan itu terus muncul. Setiap saat. Semakin sering.Membuat saya merasa malu untuk terus meminta. Sampai akhirnya cobaan itu datang.
Cobaan itu datang dalam bentuk yang bisa dibilang hampir semua doa saya tidak terkabulkan malah ditambah ujian bertubi-tubi dari Alloh SWT. Saat itu saya merasa ini tidak adil. Saya merasa sudah beribadah dan berusaha dengan maksimal tapi kenapa malah cobaan itu datang untuk saya dan keluarga? Itu kesombongan saya.
Ujian  pertama berupa jatuh sakitnya saya,justru di saat kehamilan saya memasuki bulan kesembilan. Sakit tifus mengakibatkan kontraksi datang lebih cepat dari tanggal perkiraan kelahiran sehingga saya harus segera menjalani operasi Caesar dalam kondisi yang masih sangat lemah dan demam tinggi. Kemudian, bayi saya yang baru saja lahir mengalami kuning karena bilirubinnya tinggi dan harus dirawat intensif di ruangan terpisah sehingga belum dapat saya temui sampai beberapa hari ke depan.
Ujian belum selesai.Sekeluarnya saya dan bayi saya dari rumah sakit, giliran adik kandung saya yang masuk rumah sakit karena tifus juga demam berdarah dan harus dirawat inap. Satu hari kemudian setelah adik saya masuk rumah sakit, bayi saya kembali masuk rumah sakit karena demam tinggi dan harus dirawat lagi selama satu minggu. Saya hanya boleh menjenguk pukul  11 siang dan pukul 5 sore. Dalam kondisi penyembuhan pasca operasi, saya harus bolak-balik ke rumah sakit hingga akhirnya luka operasi saya mengalami infeksi. Selain itu, stress dan kesedihan yang datang bertubi-tubi mengakibatkan produksi ASI saya tidak lancar. Bayi saya yang masih dalam masa perawatan terpaksa diberi susu formula karena saya tidak bisa menstok ASI untuknya.Gagal harapan saya untuk memberi ASI eksklusif tanpa tersentuh susu formula.
Ujian yang bertubi-tubi datangnya ini membuat saya mempertanyakan keadilan kepada Alloh SWT. Saya benar-benar merasa letih. Bahkan saya mulai malas untuk meminta. Sampai suatu ketika saya ditegur oleh Ayah saya. Kata beliau,”Bersabarlah, berbaiksangkalah  kepada Alloh SWT. Jangan anggap ini hukuman. Anggap ini ujian. Alloh SWT uji meraka yang Dia sukai. Untuk apa?Untuk naik kelas. Sakit itu peluruh dosa. Sakit itu pembersih harta. Asal sabar, asal tawakal”.
Saat itu saya diam.  Entah kenapa yang terlintas dalam benak saya saat itu cuma satu kata yaitu berjilbab. Saya sangat yakin berjilbab adalah naik kelasnya saya. Itu pikiran  saya dalam hati. Tidak boleh saya tunda-tunda lagi. Saat itu, tepat tanggal 10 November 2012 yang banyak orang sebut sebagai tanggal cantik, saya tunaikan kewajiban saya sebagai seorang muslimah. Saya hijrah. Inilah hijrah yang sebenarnya.
Berjilbab.Seharusnya dari dulu ini saya lakukan. Terlalu lama saya tunda dengan banyak pembenaran. Saat pertama kali saya berjilbab, tidak ada yang saya persiapkan. Memang seharusnya begitu. Menurut saya satu-satunya yang harus kita persiapkan saat akan berjilbab adalah LAKUKAN SAAT ITU JUGA. Saat saya memutuskan berjilbab, saat itu jugalah segera saya tutup aurat saya. Semua dengan barang pinjaman dari mama. Selanjutnya adalah terus memperbaiki diri dan belajar memantaskan diri untuk saatnya nanti kita kembali.
Untuk para muslimah yang sudah pernah terlintas di benaknya untuk berjilbab. Lakukan sekarang, jangan tunda sedikitpun. Semakin ditepis niatan itu, maka semakin jauh niat itu bersembunyi di hatimu. Lihatlah, berapa lama dunia membawa saya dari kewajiban yang seharusnya sudah saya tunaikan sejak dahulu. Hampir belasan tahun lamanya sampai niat saya bisa terlaksana. Padahal hampir setiap waktu Alloh SWT ketuk hati saya agar segera menunaikannya.  Segerakanlah karena siapa yang bisa menjamin masih ada waktu untuk memeperbaiki diri kalau tidak saat ini juga? Percayalah, Alloh SWT akan mudahkan semuanya karena Dia menyukainya.Mengutip sebuah hadis,
 “ Siapa mendekat kepada KU (Allah) sejengkal, maka aku akan mendekatinya satu hasta, Siapa yang mendekat kepada KU (Allah) satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada KU (Allah) dengan berjalan kaki, maka aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil” ) (HR. Bukhari Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nisai dan Ibnu Majah). Alloh SWT akan sangat senang apabila ada umatnya yang kembali mendekatkan diri kepada-Nya.
                Ya Alloh SWT, panggillah kami dalam keadaan yang baik. Dalam keadaan menutup aurat. Dengan bekal yang cukup untuk mendapat Ridho-Mu menjadi penghuni Surga-Mu. Amin Ya Rabbal Alamin.

Dunia punya caranya untuk terus terlihat memikat
Ia akan terus percantik diri untuk membuat kita jatuh hati
Riuhnya menutup telinga kita akan peringatan tentang mati
Gemerlapnya membuat kita yakin akan hidup abadi
Dunialah sang ahli doktrin
Dia bikin kita yakin kalau masih ada nanti dan nanti untuk memperbaiki diri
Dia bikin kita lupa kalau kita ada janji pertemuan dengan Sang Pencipta