Sabtu, 13 Juli 2013

Selamat Jalan Arif Beldwin J Sihombing

"Bukannya lupa kalau kematian itu hal yang paling rahasia..tapi kehilangan teman yg baik untuk selamanya,kapanpun waktunya pasti akan terasa terlalu cepat...Selamat jalan Arif Beldwin J. Sihombing"

(Kalimat itu saya tuliskan di status facebook yang sudah sangat jarang saya update beberapa jam setelah saya menerima kabar duka tentang kepergian seorang teman)

26 Juni 2013 yang lalu, kematian datang lagi. Kali ini menghampiri teman saya sewaktu di kampus. Kakak tingkat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Arif Beldwin J Sihombing namanya. Namun bukan FISIP yang menyatukan kami, melainkan sebuah organisasi kampus bernama KOMISI DISIPLIN FISIP UNPAD (KOMDIS FISIP UNPAD). Sebuah organisasi yang mempertemukan saya dengan Arif atau yang biasa dipanggil Cabul. Orang yang begitu muda, begitu ceria, begitu hidup....

Kematian Cabul  meninggalkan banyak duka. Maut menjemputnya di km 81 Tol Cipularang arah Bandung menuju Jakarta. Sebuah travel yang sedang hangat diperbincangkan karena kecelakaan berulang dalam beberapa bulan terakhir ini kembali mencatatkan kelalaiannya. Cititrans. Lagi. Korban. Lagi. Dan korbannya teman saya kali ini. (kronologis kecelakaan ada di sini)

Media sosial ramai bicara tentang ini. Hashtag 4Beldwin dan SafetyTransport berseliweran selama beberapa hari. Aksi damai di kantor Cititrans Bandung Jalan Dipatiukur pun dilakukan oleh teman-teman dari FISIP UNPAD dan KOMDIS FISIP UNPAD walaupun dengan hasil tidak memuaskan (baca liputan aksi di sini)

Sungguh, hari itu saya sedih. Cabul benar-benar orang yang baik. Dan sungguh hari itu juga saya terharu. Betapa solidaritas di dunia maya itu mengejutkan. Saat itu kita ada di saluran yang sama. Duka yang sama. Kehilangan yang sama. Seolah kita berada di ruang yang sama. Tidak saling mengenal tapi saling menenangkan. Tidak saling dekat tapi saling menguatkan. Itu mengharukan. 

"Liat segini ramenya orang ngomongin lo Bul. Lo bener-bener orang baik. Bangga bisa kenal dan jadi temen lo. Selamat jalan...@Beldwin"




Iya,kita tidak akan pernah tahu kapan akan berhadap muka dengan maut. Tidak akan ada yang tahu. Kapan? Dimana? Bagaimana? Tidak akan ada jawaban. Sampai saatnya kita sendiri yang akan menghampirinya di waktu, tempat, dan  cara sesuai dengan yang telah ditulis oleh Sang Pencipta. Setelah itu kita tidak akan tahu lagi. Siapa yang akan bersedih? Apa kepergian kita akan ditangisi? Atau kepergian kita justru disyukuri? Tidak akan tahu..dan tidak akan peduli lagi. Karena mungkin kita sudah memiliki kesibukan lain. Sibuk mempertanggungjawabkan dunia kita.

Sedikit perenungan untuk diri sendiri : "Sesungguhnya sebaik-baiknya nasihat adalah kematian"