Selasa, 30 Juli 2013

Cemas

Dulu, waktu saya kecil saya sering melihat mulut mama bergerak gerak cepat melafalkan doa saat papa belum pulang di jam seharusnya beliau sudah ada di rumah. Kadang sampai tengah malam mama masih terjaga  untuk menunggu papa pulang. Maklum, dulu papa memang kerja di luar kota. Butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke rumah dari kantornya karena jarak yang cukup jauh. Jarak itu menjadi semakin jauh karena belum ada telepon genggam atau alat komunikasi mobile lainnya.

Menunggu. Hanya itu yang bisa saya dan mama lakukan. Detik berubah jadi menit, menit berubah jadi jam. Sebagai seorang anak kecil, saya tidak pernah suka saat-saat menunggu papa. Cemas. Bertambah cemas karena merasakan juga kecemasan mama. Pikiran-pikiran buruk memenuhi otak. Adegan-adegan dalam tv berseliweran. Saya takut kalau tiba-tiba telepon rumah berdering dari polisi atau rumah sakit untuk mengabarkan hal buruk. Saya takut hal buruk terjadi di luar sana terhadap papa.

Sekarang, 20 tahun sudah berlalu. Teknologi sudah semakin maju dan canggih. Begitupun teknologi komunikasi. Berbalas pesan sangat mudah, telepon antar provider semakin murah, intinya jarak bukanlah masalah. Ingin tahu kabar seseorang tinggal hubungi nomornya, ingin bertatap tapi terhalang jarak bisa dengan skype atau yang lainnya. Lalu apa kecemasan seperti yang dulu dirasakan oleh saya dan mama saat menunggu papa pulang berarti sudah hilang? Ternyata tidak...

Buktinya mama masih sering cemas kalau adik saya belum pulang. Mama masih sering cemas kalau dulu saat kuliah di kota lain saya tidak ada kabar. Saya masih sering cemas kalau suami belum pulang di jam seharusnya sudah di rumah. Lalu apa mereka tidak punya telepon genggam untuk dihubungi? Punya, tapi ternyata hanya teknologi yang berubah..kecemasan itu tetap ada di sana. Tidak berubah.

Kenapa? Mungkin karena sekarang kita merasa semua terlalu mudah. Menghubungi orang rumah itu mudah, bisa nanti. Tidak mengangkat telpon dari orang rumah itu tidak masalah..bisa telepon balik nanti. Memberitahu kabar kalau akan pulang larut karena suatu hal itu mudah..bisa nanti. Tanpa kita sadari kalau ada orang yang menganggap keberadaan kita penting menunggu kabar di rumah. Dilanda kecemasan, kecemasan yang sama seperti saat telepon genggam belum jadi kebutuhan primer.