Kamis, 29 Agustus 2013

Solaria dan Sikap Cuek Konsumen

Pagi ini seperti biasa setelah cek-cek orderan dan transferan baju, saya  membuka socmed. Diawali dengan log-in ke facebook, lalu scroll-scroll, dan berhentilah mata sa di sebuah artikel yang di share teman saya tentang Solaria yang ternyata belum mendapat sertifikat halal dari MUI. Saya baca artikelnya disini. Saya search lagi dan akhirnya saya menemukan beberapa berita yang memastikan kalau Solaria memang belum mendapat sertifikat halal dari MUI.

Wow..saya lumayan kaget dengan berita itu. Solaria. Tempat makan yang punya cabang di banyak kota, yang punya banyak penggemarnya. Dan sialnya chicken gordon bluenya favorit saya. Kok bisa resto sekelas itu tidak ada sertifikat halalnya? 

Pada saat itu juga, saya menyadari kebodohan saya sebagai konsumen yang cuek, tidak mau tahu dan tidak cari tahu tentang halal haram makanan yang masuk ke perut ke saya. Saya terlalu yakin kalau resto besar dan sudah punya nama begitu pasti halal. Setelah baca berita itu, saya segera share di twitter. Ada beberapa respon kaget dari teman-teman. Ada juga teman  yang share artikel tentang Bread Talk dan JCo yang katanya juga belum memiliki sertifikat halal dari MUI. Tapi saya tidak cari tahu soal itu walau itu membuat saya bertambah kaget lagi. Seriously, saya sepertinya terlalu meremehkan hal haram halal ini. Saya terlalu yakin dengan kebesaran nama tempat makan itu sehingga tidak mau cross check lagi, padahal saya tahu halal haram itu tidak bisa ditawar.

Malamnya, saat sedang online, saya melihat timeline dari seorang selebtwit yang baru saja share tweet dari temannya. Inti dari share itu  adalah temannya tersebut menganggap lucu (bahkan bodoh katanya) publik yang gampang terpengaruh isu Solaria memakai minyak babi. Menurut logika dia, pekerja dan koki di Solaria itu ratusan, sebagian besar adalah muslim, mana mungkin mereka diam saja kalau ada yang mencampur minyak babi ke makanan. 

Menurut saya, dia naive. Banyak kejadian rumah makan yang walaupun tidak sebesar Solaria (tapi berdiri jauh lebih lama dari Solaria) yang ternyata ketahuan mencampur minyak babi atau menggunakan ayam tiren (ini pengalaman saya sendiri bisa dibaca disini ) padahal pelayannya, juru masaknya adalah muslim yang statusnya adalah pekerja lepas, tidak terikat kontrak sehingga gampang sekali kalau mau membocorkan rahasia tempat makannya. Tapi ternyata para pelayan dan koki itu tutup mulut sampai belasan hingga puluhan tahun kemudian baru terungkap setelah gonta ganti puluhan karyawan. Ini soal loyalitas atau juga bisa soal nafkah. Lalu apa tidak mungkin itu terjadi di Solaria? Mungkin saja...

Jadi logika hanya berperan sebagai  pendingin sementara di sini. Intinya adalah umat, masyarakat butuh jaminan dan kepastian dari lembaga yang kompeten dalam bidang tersebut dan jaminan itu berupa sertifikat halal dari MUI yang ternyata belum pernah diurus oleh pihak Solaria sejak pertama kali mereka beroperasi. Setelah muncul isu ini baru akhirnya pihak Solaria berjanji untuk mengurus segera sertifikat halal bagi restonya. 

See...ternyata kita masih sangat menganggap remeh soal halal haram ini. Saya sebagai konsumen malas bertanya  atau cari tahu tentang halal haramnya suatu tempat makan karena saya menganggap remeh.Saya yakin kalau semua makanan apalagi dengan pasar yang besar seperti Solaria, atau Breadtalk, atau J-CO itu pasti ada sertifikat halalnya karena ini di Indonesia gitu looh..negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Saya lalai...Pihak Solaria apalagi, sudah pasti mereka menganggap remeh soal sertfikat halal itu. Mereka sibuk ekspansi tempat usaha sebanyak-banyaknya. Tujuannya hanya profit dan profit. Lupa kalau ada kepentingan masyarakat yang tida bisa dianggap enteng disini. Pihak MUI selaku pihak yang kompeten seharusnya juga aktif. Solaria kan bukan usaha yang kecil. Muslim banyak yang makan di sini. Kecuali kalau sistem kerja mereka memang "menunggu bola". Siapa yang daftar, ya itu yang dilayani untuk mengurus sertifikat halal. 

Intinya saya rasa kalau semua mau aktif cari tahu dan tidak menganggap remeh perkara halal haram ini, tidak akan terjadi isu yang akhirnya membingungkan masyarakat seperti ini. Dan tidak perlu menyalahkan kompetitor atas isu tersebut karena cepat atau lambat isu seperti ini pasti akan bergulir. Lebih cepat justru lebih baik.Lebih cepat untuk memperbaiki diri.

Sahabat Itu...Seleksi Waktu

Pada akhirnya teman sejati adalah tentang seleksi waktu. Beberapa tahun yang lalu merasa punya banyak sekali teman. Tapi sekarang satu persatu dieleminasi waktu. Tidak selalu karena konflik, kalau saya malah lebih sering karena terpisah jarak. Kuliah di kota lain, bekerja di kota lain, sibuk dengan kehidupan yang lain, punya teman-teman baru yang lain, yang sayangnya semuanya menuntut kita untuk beradaptasi dengan mereka.

Intensitas komunikasi dengan teman-teman lama jadi berkurang,bahkan kadang hilang.Tegur sapa yang dulu lancar sekarang jadi hanya ala kadar. Saat bertemu yang dulu sangat akrab sekarang bisa jadi hambar.Lama-lama mau menyapa pun sungkan. Lama-lama seolah tidak saling kenal walau mata sudah bertabrakan.

Kadang ada perasaan kehilangan saat mengingat momen-momen dulu sangat dekat dengan sahabat-sahabat lama.Kadang saat rasa kangen akan momen-momen itu begitu kuat sehingga mencoba lagi untuk memulai silaturahmi yang merenggang itu. Menyapa duluan. Sapaan dibalas. Kemudian berlanjut saling bertanya kabar, saling bercerita tentang hidup masing-masing. Singkat saja karena terlalu panjang untuk diceritakan semua .Lalu sudah begitu saja. Kita akan lanjut lagi dengan hidup kita yang sudah tanpa ada mereka.

Niatan menyambung silaturahmi ternyata tidak membuat kita kembali akrab lagi.Mungkin jaraknya sudah terlalu jauh.Waktu tahunan sudah mengubah semua kesan, dan kenangan. Waktu tahunan sudah mengubah saya dan sahabat-sahabat lama menjadi berjauhan.

Kartu Lebaran, Riwayatmu Kini

Kemarin, di saat menjelang lebaran terlintas di pikiran saya kalau zaman bergerak terlalu cepat. Masih ingat rasanya bahagia saat gerbang rumah dibuka oleh pak pos membawa kartu lebaran. Entah untuk mama, papa, saya, atau adik tapi selalu ada secercah bahagia saat memegang amplop bertuliskan nama dan alamat tujuan yang ditulis tangan sang pengirim surat. Merasa sangat dekat,merasa sangat diingat. Belum lagi perasaan senang yang makin membuncah saat mulai membuka amplop dan melihat kartu lebaran seperti apa yang dipilih sendiri oleh orang di seberang sana yang ingin mengucapkan selamat hari raya. Melihat untaian kalimat  didalamnya yang kadang ditambah dengan pesan pribadi yang juga ditulis sendiri. Benar-benar membuat saya dan juga keluarga merasa istimewa. Lebaran menjadi penuh makna. Permintaan maaf sang pengirim kartu pun terasa begitu tulus karena saya merasakan juga ada perjuangan untuk menyampaikannya. Perjuangan memilih kartu, merogoh kocek untuk membeli kartu, memberi pesan pribadi yang ditulis
sendiri, mencari tahu alamat yang dituju, dan mengantar kartu ke kantor pos untuk segera dikirim ke alamat tujuan.

Bandingkan dengan sekarang dimana meminta maaf, mengucap selamat menjadi begitu mudah, begitu murah, begitu praktis, begitu gratis (kadang),dan begitu tidak personal. Mengetik pesan pribadi ucapan maaf dan selamat bisa copas dari teman atau hasil buah karya tahun lalu. Mengirim pesan pun berbarengan sehingga tidak sempat menyebut nama yang dituju karena satu pesan untuk puluhan bahkan ratusan nama. Lalu modal pulsa? Tidak banyak, karena provider banyak menawarkan promosi kirim sekian sms gratis sms sekian ratus. Sangat ekonomis. Bukannya tidak menghargai semua usaha itu, selama beberapa tahun yang lalu pun hal seperti itu setiap tahun selalu saya lakukan. Namun, saya hanya berpikir kalau zaman terus berjalan begini cepatnya mungkin beberapa tahun ke depan ucapan Selamat Hari Raya idul Fitri dan maaf lahir bathin benar-benar akan kehilangan maknanya.Hanya sekedar basa-basi belaka.Atau mungkin zaman itu sudah dimulai?