Kamis, 31 Oktober 2013

Kecewa itu Biasa


Dulu, orang beranggapan bumi itu rata..ternyata bulat, dulu kita dibilang keturunan monyet..ternyata bukan. Lihatlah, teori yang ratusan tahun umurnya ternyata bisa salah, padahal dulu juga ada science, dulu juga banyak orang pintar, dulu juga banyak ilmuwan..dan semuanya salah.

Dulu, ada seorang dai kondang. Dipuja masyarakat. Kalau dia ceramah di suatu tempat, pasti penuh.Kemudian dia diberitakan ada skandal dengan seorang wanita.Semua orang kecewa.Walaupun tidak tahu itu benar atau salah,popularitasnya turun.Ditambah beliau ikut-ikutanan terjun di dunia politik,simpati massa makin berkurang.

Kemudian ada lagi dai yang juga kondang. Rumah tangga harmonis. Anak banyak. Bisnis lancar.Ceramahnya enak didengar. Kemudian dia berpoligami. Tidak peduli itu dibolehkan oleh agamanya, masyarakat tetap kecewa. Popularitas turun,tempat bisnis sepi, dan dia mulai jarang kelihatan di tv.

Lalu, ada partai yang katanya partai Islam. Di awal kemunculannya masyarakat simpati dan berekspektasi tinggi terhadap sebuah partai "bersih". Apalagi di saat itu mereka yang paling responsif, kalau ada bencana, mereka selalu jadi yang pertama untuk menggalang dana dan kerja bakti. Ditambah kadernya banyak kyai. Orang-orang di dalamnya tampak baik budi. Tapi kemudian presidennya tersandung kasus daging sapi. Belum lagi banyak kader yang poligami. Tidak peduli  lagi untuk cari klarifikasi. Ibu-ibu langsung antipati. Masyarakat kecewa lagi.

Ternyata, kalau dipikir-pikir amat banyak kekecewaan kita terhadap dunia dan isinya ini.Kecewa dengan tokoh idola, kecewa dengan pasangan hidup, kecewa dengan anak, kecewa dengan teknologi, kecewa dengan sikap dai, kecewa dengan partai, kecewa dengan pemimpin, kecewa dengan sistem layanan, kecewa dengan asuransi, kecewa dengan mimpi, kecewa dengan diri sendiri. 

Mungkin kalau hal ini dipikir terus bisa bikin frustasi,bisa bikin bunuh diri.Namun, ternyata lihatlah kita masih bisa tegar berdiri walau banyak kekecewaan yang telah kita lalui. Mungkin ini karena kita punya hati yang kuat, yang semakin sakit maka ia semakin  bertambah kuat. Mungkin karena kita punya saudara dan kerabat yang telah diseleksi oleh waktu untuk terus menemani, memberi support, dan terus mengingatkan bahwa kita hebat. Tapi ini pasti karena kita punya punya Alloh. Alloh yang baik,yang tidak pernah membuat kecewa,yang selalu memberi yang paling baik,yang selalu membuat kita ingat kalau semua sudah jalanNya. Kecewa kita itu kecil kalau dibandingkan rencana indah-Nya untuk kita yang bertaqwa.