Kamis, 07 November 2013

Pergi

A: Nanti, kalau suatu hari nanti kamu menyakiti hatiku sangat dalam sehingga aku tidak mau lagi kita kembali walaupun aku masih cinta, maukah kamu melakukan satu hal untukku?

B: Apa?

A: Pergi

B: Itu saja?

A: Benar-benar pergi. Pergi dari hidupku. Ganti nomor hp mu. Ganti e-mailmu. Tutup facebook, twitter, dan apapun media sosialmu. Tutup semua aksesku untuk menjangkaumu.

B: Kenapa?

A: Karena semarah apapun aku pasti mereda kembali. Aku pasti akan mencarimu lagi. Aku akan memaafkanmu.

B: Lalu apa yang buruk dari itu?

A: Kita akan bersama lagi. Padahal aku tidak akan pernah bisa melupakan kesalahanmu. Hubungan kita berikutnya tidak akan pernah bisa sama. Tidak akan baik untuk kita. Aku akan terus menyakiti kita dengan ingatan akan kesalahanmu di masa lalu. Aku tidak mau seperti itu. Jadi jangan pernah biarkan aku memulainya.

B: Lalu bagaimana bila kita dipertemukan kembali?

A: Lari, menghindar, atau apapun itu. Pergi sampai aku tidak bisa meraihmu walau hanya untuk menyapa. Percayalah. Itu akan lebih baik. Itu akan menghemat waktu kita untuk maju. Berjanjilah padaku.

Setia

A: Jadi kamu percaya janji setia?
B: Ya..harus percaya
A: Kenapa harus?
B: Saya butuh sugesti kuat untuk percaya tentang sifat yang bukan nama tengahnya laki-laki. Kamu?
A: Tidak..tidak pernah, tidak akan pernah
B: Kenapa?
A: Setia itu hanya milik manusia langit
B: Sinis..
A: Mungkin, tapi setia dalam diri manusia pasti berakhir. Kalau tidak sekarang ya nanti. Setia sekarang, tidak nanti. Hanya masalah waktu.
B: Mungkin kamu hanya menutup mata. Terlalu sakitkah lukanya? Lihat di luar sana banyak janji setia yang ditepati.
A: Bukan ditepati.
B: Lalu?
A: Seperti saya bilang. Hanya masalah waktu. Mereka bisa bilang setia karena dua hal.
B: Apa?
A: Hanya jika belum teruji dan hanya jika teruji tapi godaannya beda frekuensi. Belum klop, belum cocok.