Minggu, 12 April 2015

Mekarnya Bunga Youtan Poluo





Dimuat di kampusfiksi.com (Cerpen Jumat) &Pemenang Arisan Cerpen Kampus Fiksi Angkatan 11 (putaran kedua)

Ini kali keduanya Yuwen tampil di San Diego. Baginya dan seluruh tim Wu Dao Performing Arts, ini akan menjadi musim dingin yang menyenangkan karena California bagian selatan banyak mendapat cahaya matahari. Tidak seperti tahun kemarin dimana mereka harus menghabiskan musim dingin di Eropa yang suhu udaranya turun sampai -20 derajat Fahrenheit. Hal sederhana lainnya yang menggembirakan bagi Yuwen dan penari lainnya adalah, San Diego Civic Theatre memiliki tempat rehearsal[1] yang lebih luas dan lebih banyak cermin dibanding gedung pertunjukkan lainnya. Cermin-cermin itu sangat penting bagi para penari untuk mengukur seberapa tinggi kaki mereka saat diangkat menentang gravitasi bumi –dan juga untuk mengagumi diri sendiri. Tapi yang paling utama dari itu semua adalah tempat mereka tampil dan berlatih kali ini memiliki lantai marley. Lantai yang khusus untuk menari itu memang tidak bisa ditemukan di semua gedung pertunjukkan. Paling tidak persediaan beberapa pasang sepatu yang Yuwen bawa dari New York tidak akan banyak berkurang hanya karena lantai semen atau karpet kasar yang dengan cepat bisa membuat bolong alas kakinya.

***

Pagi ketiga Yuwen di San Diego dan lagi-lagi pandangannya  jatuh pada sosok gadis kecil yang melihat sesi latihan mereka dari kaca lebar di sebelah kiri ruangan. Gadis kecil itu tidak sendiri, ada beberapa orang yang juga ikut melihat sesi latihan yang harusnya tertutup. Tapi yang membuat Yuwen mengingat kalau gadis itu tidak pernah absen sejak hari pertama latihan mereka adalah penampilannya yang mencolok mata. Bagaimana tidak, ia hadir di tengah-tengah kerumunan manusia yang berpakaian rapi dan bersih. Tubuhnya yang kecil itu –bahkan sangat kecil, dibungkus oleh jaket kebesaran, berpadu dengan celana jeans lusuh dengan size yang juga sangat besar. Rambutnya yang kemerahan tampak kusam dan ia menggenggam gulungan karton besar di tangan kanannya. Mata cokelatnya yang bulat besar terus bergerak mengikuti langkah para penari. Mata itu memancarkan keingintahuan sekaligus kegembiraan yang luar biasa. Ironisnya, hanya mata itu yang tampak hidup

Aku ingin menjadi penari.” Itu kalimat pertama yang Yuwen dengar saat ia akhirnya menghampiri gadis itu karena kalah akan rasa penasaran. Kalimat itu bahkan keluar sebelum Yuwen bertanya apapun padanya.

“Siapa namamu?” tanya Yuwen akhirnya.

“Nancy,” jawabnya dengan suara lemah.

Melihat Nancy dari dekat ternyata jauh lebih mengkhawatirkan dibanding menatapnya melalui kaca lebar di ruang latihan. Leher gadis itu teramat kurus. Yuwen tidak tahu, apakah jaket kebesaran itu digunakannya sebagai kamuflase agar terlihat lebih berisi, atau dia memang membutuhkannya untuk merasa nyaman di cuaca musim dingin ini.

Yuwen menyadari kalau kondisi Nancy tidak memungkinkan untuk menjadikannya seorang penari, tapi Yuwen juga tidak ingin menjawab keinginan Nancy dengan kata-kata yang seolah-olah menghibur hati namun hanya akan menjadi harapan semu bagi gadis itu. Di pertemuan pertama itu, Yuwen memilih diam dan membiarkan mata cokelat Nancy terus menatap ke dalam ruangan yang kosong ditinggal para penari berisitirahat. Tidak lama kemudian, Nancy pergi.

***

Besoknya Nancy datang lagi. Kali ini dengan syal rajutan besar mengelilingi lehernya yang kecil. Jaket yang kebesaran itu masih dikenakannya. Saat sesi istirahat berlangsung, lagi-lagi Yuwen mendatangi Nancy.

“Kenapa Kakak datang ke sini lagi?” Nancy bertanya tanpa menatap mata Yuwen.

Yuwen sendiri sebenarnya heran dengan ketertarikannya yang luar biasa terhadap Nancy. Yuwen merasakan seperti ada sebuah magnet yang tubuh ringkih itu pancarkan agar dia selalu mendekat.
         
“Kamu tahu bunga youtan poluo, Nancy?” Yuwen bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nancy sebelumnya.
           
Nancy hanya menggeleng. Tapi pertanyaan itu berhasil membuat mata coklat Nancy mengarah kepada Yuwen.

“Melihatmu mengingatkanku akan youtan poluo.” Sedari kemarin, hal ini yang terus melintas di benak Yuwen saat melihat Nancy. Bunga yang di musim pertunjukkan kali ini banyak disebut dalam sesi latihan Wu Dao Performing Arts.

“Apa itu?”

“Bunga yang menurut legenda hanya tumbuh 3000 tahun sekali. Warnanya putih tidak ternoda, kecil seperti kamu, terlihat lemah, tapi ternyata tangguh. Bila sudah tumbuh di suatu tempat, dia akan sulit untuk dicabut. Menarik, karena bahkan dia tidak terlihat memiliki akar.”

Nancy tertawa mendengar cerita Yuwen. Wajah itu ternyata masih menyimpan kecantikan. “Itu hanya legenda, Kak. Kalaupun ada, siapa yang bisa menjamin kebenarannya? Siapa manusia yang umurnya sangat panjang hingga bisa menghitung kelahiran bunga itu?” Pertanyaan kritis itu keluar dari mulut yang terlihat tidak mampu mengeluarkan kata. Mengeluarkan kalimat sepanjang itu membuat nafasnya terengah-engah. Nancy merapatkan jaket tebalnya ke badan.

“Kamu sakit, Nancy?” tanya Yuwen melihat tingkah Nancy.

“Ya, sakit keras,” jawabnya ringan.

Sakit apa yang dialami anak sekecil ini sehingga mampu menghabisi seluruh berat badannya? Sakit apa yang dihadapinya sehingga seluruh tubuhnya mengeluarkan aroma kesedihan? Yuwen bertanya dalam hati.

“Aku akan menunjukkan youtan poluo padamu besok. Tidak perlu menunggu 3000 tahun, Nancy,” ucap Yuwen spontan.

Mata Nancy terbelalak mendengar ucapan Yuwen. Sejenak, Nancy terlihat sangat sehat dan bahagia.

“Ya, besok malam, temanku akan menunggumu di sini dan mengantarkanmu menemuiku. Kita akan melihat youtan poluo bersama,” jawab Yuwen lagi untuk meyakinkan Nancy.

“Aku akan datang. Terima kasih.” Wajah itu menyiratkan kegembiraan yang sangat besar.  

Jika Nancy memang sakit keras, maka aku akan memberikan pengalaman yang indah untuknya besok. Janji Yuwen pagi itu.

***

Gemuruh tepuk tangan terdengar  di seantero gedung San Diego Civic Theatre. Hampir seluruh penonton yang berjumlah sekitar tiga ribu orang memberikan standing applause pada penampilan terakhir malam ini sekaligus penampilan yang menyudahi rangkaian tur Wu Dao Performing Arts di California Selatan.

Bunga Youtan Poluo Yang Sedang Mekar[2] ditampilkan dengan luar biasa cantik." Terdengar suara MC dua bahasa setelah keramaian tepuk tangan berakhir.

Tarian yang baru saja ditampilkan memang benar-benar memukau mata seluruh penonton. Begitu tirai dibuka, terlihatlah kemegahan Buddha yang dilanjutkan dengan legenda tentang bunga yang hanya dapat ditemui 3000 tahun sekali. Bunga Youtan Poluo yang berwarna putih tanpa cela diterjemahkan dengan  kostum penari yang berwarna putih bersih, tangkainya yang tipis serta tampak lemah tergambar dalam langkah-langkah kaki penari yang ringan seperti mengambang. Sangat cantik dan anggun.

Sejatinya, bunga ini bukanlah simbol perpisahan, melainkan simbol sebuah kedatangan, tapi dipilihnya Mekarnya Bunga Youtan Poluo sebagai tarian penutup lebih kepada kemegahan sekaligus kesucian yang dihadirkannya.

Di sana, di atas panggung, di antara puluhan orang dengan kostum buatan tangan yang memukau, ada sebuah senyum yang tidak bisa lepas dari mulut seorang wanita bernama Yuwen. Tapi senyum itu perlahan memudar seiiring tatapan matanya yang tidak juga berhasil menemukan sosok kecil dengan jaket kebesaran di bangku yang khusus dia berikan kepada penonton spesial malam iniKemana kamu, NancyYoutan Poluo mekar di sini, seperti yang aku janjikan.

***

Malam itu, jauh dari keriuhan San Diego Civic Theatre yang sedang menampilkan Wu Dao Performing Arts –kelompok kesenian yang terkenal akan penampilannya dalam membawakan budaya-budaya Tiongkok, di pemukiman kumuh belakang Plaza Camino, seorang gadis kecil melepas jaket yang telah menemaninya seharian. Ia juga melepas kaos dan celana jeans kusam miliknya. Malam ini seharusnya dia menyaksikan bunga youtan poluo yang sedang mekar. Entah benar atau tidak ucapan kakak penari itu, tapi ia sangat ingin melihatnya. Bunga yang menurut legenda butuh waktu 3000 tahun untuk melihatnya lagi.

Ia memandangi satu-satunya barang mewah di tempat tinggalnya. Sebuah cermin tinggi dan lebar yang sudah retak di banyak sisinya. Diangkatnya satu kakinya perlahan hingga lututnya mampu menyentuh hidung, kemudian disandarkan kaki yang sudah terangkat tinggi itu ke cermin. Ada rasa sakit yang timbul. Bukan sakit karena gerakan itu –dia sudah menguasai gerakan itu sejak dahulu, tapi sakit yang timbul di seluruh badannya. Kertas karton besar bertuliskan “NEED MONEY FOR FOOD” yang setiap hari ia bawa dan bentangkan sambil mengharap belas kasihan para pejalan kaki, kini tergeletak di dekat kakinya. Sedikit percikan darah mulai mengering di sana.
            
Nancy sudah sering dipukul, ditampar, bahkan disayat tangannya oleh Mama karena hal-hal kecil yang membuat Mama marah. Mama sangat mudah tersulut amarah akhir-akhir ini. Mungkin karena beberapa hari ini ia pulang dengan tidak membawa banyak uang karena diam-diam sering keasikan menonton latihan tari di gedung pertunjukkan megah itu.

Selama ini Nancy tidak pernah menangis. Tapi kali ini, sambil melihat bayangannya di cermin, Nancy mulai menangis. Seluruh tubuhnya yang telanjang terlihat dengan jelas di cermin itu. Luka lebam hampir di sekujur tubuh kurusnya. Di kakinya masih ada satu sayatan merah yang belum berhenti mengeluarkan darah. Luka itu baru saja diterimanya malam ini saat mencoba kabur dari rumah. Saat ia mencoba pergi diam-diam untuk melihat bunga youtan polou yang sangat langka. Luka itulah penyebab tangisnya malam ini karena untuk pertama kalinya mama menyakiti sepasang kaki yang sangat dicintainya. Kaki yang diharapkan akan membawanya menjadi seorang penari.




[1] latihan
[2] Tarian yang diciptakan dari budaya tradisional Tiongkok.

Cat: Cerpen ini menjadi kontributor di blog Kampus Fiksi angkatan 11 (www.kf-11.blogspot.com)