Kamis, 23 Juli 2015

ENTROK (OKKY MADASARI)



Jangan terkecoh dengan sampul novel ini yang sangat cerah khas warna-warna buku chicklit. Sebaliknya, walau disajikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, novel ini sungguh kaya. Sebelum membahasnya, alangkah baiknya jika kita mengetahui cara pengucapan Entrok. E pada entrok dilafalkan seperti melafalkan E pada edan. Dan huruf K tidak disebut dengan jelas. Sudah bisa? Mari kita mulai membahas entro’.

Novel ini menyajikan dua sudut pandang yaitu sudut pandang Marni , sang ibu dan Rahayu, sang anak. Marni adalah perempuan kampung yang sejak kecil telah hidup dengan sangat keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia tidak mengenal baca tulis dan menjadikan leluhur sebagai tempat meminta pertolongan. Entrok artinya sendiri adalah bra. Dikisahkan bahwa karena begitu sulitnya kehidupan di masa itu, entrok menjadi barang yang sangat mewah bagi Marni sehingga untuk membelinya dibutuhkan usaha yang sangat keras. Segala pekerjaan dilakoni Marni untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Mulai dari pengupas singkong, kuli angkut di pasar, berdagang kulakan, berdagang panci keliling kampung, hingga menjadi rentenir. Rahayu adalah anak yang besar di saat kehidupan Marni sudah lebih baik sehingga dia bisa mendapat pendidikan yang baik dan mengenal bahwa Tuhanlah tempat meminta pertolongan. Rahayu juga belajar bahwa pekerjaan ibunya sebagai rentenir adalah haram.

Perbedaan pandangan antara kedua generasi ini lama-kelamaan akhirnya menyulut konflik yang mengakibatkan Rahayu tidak nyaman berada di rumah akibat ritual-ritual pemujaan yang sering ibunya lakukan dan cibiran masyarakat atas pekerjaan ibunya. Marni sendiri tidak setuju dengan sikap sang anak yang melupakan leluhur dan tidak punya hati karena akhirnya memilih jalan sendiri yang menurut Marni adalah salah.

Tidak itu saja, novel ini juga menyajikan keadaan ekonomi dan politik di tahun 1900-an lengkap dengan isu-isu sosialnya di mana semuanya serba sulit dan penuh tekanan tapi diceritakan dengan santai dan ringan. Penulis membuat kedua tokoh utamanya sangat detail dan lengkap dengan sifat serta pergolakan batin dan kerumitannya masing-masing. Meskipun menggunakan dua sudut pandang, perpindahan plotnya sangat mulus sehingga cerita tetap mengalir dengan baik. Banyak pesan yang disampaikan oleh buku ini. Tapi pesan yang paling kuat adalah pentingnya menjaga toleransi di atas semua perbedaan dan juga ajakan untuk tidak melupakan sejarah bangsa.