Senin, 04 Januari 2016

JEJAK MATA PYONGYANG (SENO GUMIRA AJIDARMA)




"Please don't take the picture of the people."

"Why?"
"The people are not beautiful."
(Jejak Mata Pyongyang hal.36)

Buku yang disesali oleh SGA karena tidak segera menuliskannya 10 tahun yang lalu ini, banyak membuka mata saya tentang keadaan Pyongyang sebenarnya. Mungkin saat buku ini terbit, keadaan sudah berubah di sana, tapi saya yakin tidak terlalu banyak. Foto-foto yang mendominasi buku ini bercerita banyak tentang keseragaman, ketakutan, indoktrinasi, dan pengawasan ketat yang melekat. Cerita-cerita yang dihadirkan oleh SGA mengenai hal-hal tidak biasa yang ada di sana juga menjadi sangat menarik karena diceritakan dengan bahasa yang (kelewat) santai dan berbumbu humor. Bermula dari ceritanya soal letak hotel yang tidak biasa, restoran tanpa menu makanan, diawasi oleh intel karena kebiasaannya memotret, pertanyaan 'are you believer' yang terasa aneh, kebebasan berkesenian tanpa kebebasan berekspresi, narsisme pemimpin yang luar biasa, larangan untuk memotret orang, larangan memotret pemimpin mereka dengan setengah-setengah, dan masih banyak lagi. Membaca sekaligus melihat semua hal menarik tersebut, membuat buku ini tuntas hanya dalam beberapa jam saja. 

Terakhir, SGA menutup buku ini dengan kalimat yang bijak.

"Akan menjadi baik atau menjadi buruk bagi bangsa Korea di belahan utara, meski memang sambil lalu telah berpendapat, saya tidak berada dalam kedudukan yang memadai untuk memberikan penilaian akhir-segalanya kembali ke tangan bangsa Korea, untuk merebut sendiri kebebasannya, jika memang pembebasan merupakan suatu jawaban."

Sumber gambar:https://www.goodreads.com/review/show/1264600576