Rabu, 20 Januari 2016

CERITA BUAT PARA KEKASIH (AGUS NOOR)





Biasanya untuk sebuah antologi, saya membutuhkan waktu yang sangat singkat untuk selesai membacanya. Kadang sehari, maksimal tiga hari. Tapi buku ini, buku yang saya beli karena nama besar Agus Noor ternyata membutuhkan waktu sampai 4 hari menyelesaikannya. Kenapa? 

Pertama karena membaca kisah-kisah dalam cerita ini ternyata tidak bisa buru-buru. Setiap kata, setiap kalimat, setiap cerita seperti meminta untuk dibaca perlahan. Sangat puitis

Kedua, karena setiap saya berhenti sejenak dari membaca buku ini, ternyata daya tarik buku ini tidak terlalu kuat untuk membuat saya segera ingin menyelesaikannya. 

Semua cerita dalam buku ini sangat 'Agus Noor'. Sexy, kelam, twist ending, puitis, dramatis, tragis, dan bikin meringis. Jika ada buku yang judulnya manis tapi bisa membuat pembaca mimpi buruk tentang istri yang diawetkan di dalam akuarium atau tentang ulat bulu yang memenuhi dinding rumah sehingga dinding rumah itu terlihat berdenyut atau tentang perempuan yang matanya dicongkel keluar...hanya ini bukunya. Namun tidak hanya melulu soal cinta dan kisah-kisah yang tragis, buku ini juga berisi sindiran-sindiran terhadap situasi politik dan keamanan di Indonesia. Seperti MEMORABILIA KESEDIHAN yang bercerita tentang kisah di balik peristiwa Bom Bali atau MATINYA SEORANG DEMONSTRAN yang bercerita tentang kehidupan aktivis di masa Orde Baru.

Oh, ya...foto-foto yang bertebaran di sepanjang halaman buku ini, mungkin karena fotonya hitam putih, mungkin karena foto-fotonya termasuk 'berani',atau mungkin karena imajinasi saya yang terlanjur liar sehingga selain memanjakan mata juga menambah suasana mencekam yang tercipta dari tulisan-tulisan Mas Agus (biar akrab).

Akhirnya, cerpen favorit saya adalah GERIMIS DALAM E MINOR. Entah kenapa, cerpen ini menurut saya begitu utuh. Bukan cerpen dengan twist ending. Bukan juga cerpen yang kisahnya miris atau sadis. Tapi cerpen ini indah dengan segala analoginya, konfliknya yang smooth, dialog-dialog cerdasnya, dan diakhiri dengan ending yang sudah terduga namun tetap saja menyentuh. Dan lagian, cinta rahasia, siapa yang tidak punya? ; )

"Kesedihan memang terasa lebih pedih dalam ingatan. Tahukah kau, gerimis menjadi lebih menyedihkan saat kau tak ada. Dan dalam ingatanku, gerimis itu selalu datang." (GERIMIS DALAM E MINOR)