Kamis, 13 Oktober 2016

[Film] H.O.M.E


Menemukan kalimat ini saat tadi pagi saya scroll TL twitter. Tiba-tiba teringat beberapa bulan yang lalu saat mengikuti diklat prajabatan dan disajikan film HOME dalam materi anti korupsi. Sebuah film dokumenter yang syutingnya  di 54 negara di dunia selama periode 18 bulan dan menghabiskan proses pengambilan gambar selama 448 jam dengan visualisasi yang luar biasa indah karena menggunakan helikopter yang dipasangi kamera-kamera yang mampu merekam gambar-gambar bergerak dengan ketajaman tinggi. Bukan soal visualisasi indahnya saja yang membuat saya betah menonton film ini di tengah-tengah jam rawan kantuk, the message is too stroong to ignore. 

Jadi, film ini menceritakan dari awal mula pembentukan bumi selama beberapa milyar tahun yang lalu hingga akhirnya semua energi pembentuk bumi itu berada dalam titik keseimbangan dan berdampingan secara harmonis. Sampai datangnya manusia ratusan ribu tahun yang lalu. 
"And that's where you, homo sapiens, wise human, enter the story. You benefit from a fabulous four billion years old legacy bequeathed by the Earth. You are only 200.000 years old, but you have changed the face of the world. Despite your vulnerability, you have taken possession of every habitat and conquered swathes of territory, like no other species before you."
Di awal kedatangannya, manusia masih ramah terhadap alam, kita hanya mengambil apa yang kita butuhkan. Tidak berlebih. Tapi, masa ke masa, seiiring dengan populasi manusia yang semakin banyak, kita dengan segala kemampuan dan kelebihan yang kita miliki mulai menghendaki percepatan di segala hal.
Faster and faster... 
"We haven't understood that we're depleting what nature provides. ... We have forgotten that resources are scarce."
Kita ingin hewan bertumbuh dengan lebih cepat untuk memenuhi konsumsi daging. Akhirnya banyak hewan-hewan ternak yang bahkan tidak pernah melihat habitat aslinya di padang rumput. Mereka hidup di peternakan dan memakan gandum yang telah diberi segala nutrisi untuk mempercepat pertumbuhan. Kita ingin memasak lebih cepat. Kita ingin panen lebih cepat. Kita ingin berpindah lebih cepat dan kita terus membolongi bumi ini untuk memperoleh segala energi yang ada di dalamnya. Keseimbangan itu musnah. Persediaan energi di dalam bumi semakin sedikit. Air bersih mulai langka. Tidak ada lagi tanah untuk mulai memperbaiki segala kerusakan yang telah diciptakan.

Yang menarik, film ini juga melakukan pengambilan gambar di Indonesia tepatnya di Pulau Kalimantan. Kalau biasanya Indonesia menjadi sorotan karena keindahan alamnya, berbeda dengan film ini. Film ini menyoroti Kalimantan sebagai pulau terbesar keempat di dunia yang dipenuhi oleh hutan yang luas dan prediksi bahwa dengan terjadinya penebangan hutan terus menerus di Kalimantan, bisa jadi pulau tersebut akan hilang dalam waktu sepuluh tahun saja.
"Living matter bonds water, air, earth, and the sun. In Borneo, this bond has been broken in what was one of the Earth's greatest reservoirs of biodiversity. This catastrophe was provoked by the decisions to produce palm oil, one of the most productive and consumed oils in the world, in Borneo."
Setelah dipaparkan begitu banyak kerusakan yang telah manusia timbulkan, di akhir cerita film ini mengajak kita untuk tetap optimis dan yakin untuk dapat melakukan perubahan. Cukup sepuluh tahun saja, apabila kita memiliki kesadaran bersama untuk mengubah pola konsumsi kita, maka bumi bisa diselamatkan. Selain itu, film ini juga mengingatkan kepada kita bahwa masih ada energi besar di atas sana. Energi yang tidak akan habis selama bumi masih ada. Tidak bisakah manusia meniru tumbuhan dan menangkap energi matahari untuk terus hidup? 
"All we have to do is stop drilling the Earth and start looking to the sky."
  Sumber gambar : https://id.pinterest.com/pin/350295677237765205/