Minggu, 15 Januari 2017

KERUMUNAN TERAKHIR (OKKY MADASARI)


Ini adalah buku ketiga dari Okky Madasari yang saya baca setelah Entrok (2010) dan 86 (2011). Masih menyajikan kritik sosial, buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu Dunia Pertama, di mana Jaya mengalami kesedihan-kesedihan dalam hidupnya akibat perilaku Bapaknya yang suka main perempuan, Ibunya yang akhirnya meninggalkan Jaya dan adik-adiknya karena tidak kuat menerima perilaku Bapaknya, kisah cinta masa kuliahnya bersama Meira yang harus kandas karena kesedihannya ditinggal pergi Ibu, pelarian-pelariannya ke tempat-tempat asusila hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat, dan kepergiannya menyusul Meira untuk mencari apa yang dia anggap masa depan. 

Day #17 Writing Challenge "Something That You're Proud Of"

Gambar dari sini

Ada satu momen kecil yang saya ingat dan membuat saya bangga pada diri sendiri. Jadi, saat saya kelas 1 SD dan mendapat rengking pertama, ada seorang nenek teman saya yang bilang di depan muka saya, 
"Kamu kan rengking satu karena Mama kamu yang ngajar." 
Mama saya memang mengajar saya saat itu. Setahun kemudian, saat saya kelas  2 SD dan masih mendapat rengking pertama padahal tidak diajar lagi oleh Mama, saya berjalan di depan si nenek dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi. Saya baru sadar sekarang kalau mungkin saja nenek itu sudah tidak ingat dengan omongannya, mungkin juga dia heran dengan sikap saya yang mengangkat dagu tinggi-tinggi saat lewat di depannya. Jangan-jangan dia berpikir kalau saya sedang sakit leher? Kenapa saya tidak kepikiran ya? 

Momen selanjutnya adalah saat dulu Papa saya punya pulpen antena. Yaitu pulpen yang ujungnya bisa ditarik panjang sekali seperti antena mobil. Makin ke ujung, antenanya makin tipis. Saya kurang tahu juga fungsinya apa, yang pasti saat itu, pulpen itu terlihat keren. Jadi ceritanya, di komplek rumah saya dulu banyak anak laki-laki yang waktu dulu terlihat nakal. Saya baru belajar berani pergi ke warung sendiri. Akhirnya, karena takut diganggu, saya selalu membawa pulpen itu setiap kali disuruh Mama ke warung. Suatu hari, saya ke warung di saat anak-anak itu sedang berkumpul di depan pagar salah satu kawanan mereka. Mereka melontarkan ucapan yang saya tidak ingat tapi saat itu saya merasa diganggu. Dengan cekatan saya keluarkan pulpen ajaib saya, saya tarik ujungnya, dan saya putar-putar di depan mereka. Mereka tampak kagum. Dan saya bangga. 

Sekian.

Day #16 Writing Challenge "Something You Always Think 'What If' About"

Gambar dari sini

Kalau mendengar 'What if' ingatan saya otomatis melayang ke 3 lagu. Yang pertama lagunya, Kate Winslet yang judulnya "What if'".
What if I had never let you go
Would you be the man I used to know
If I'd stayed
If you'd tried
If we could only turn back time
But I guess we'll never know
Lalu saya jadi ingat lagunya Joan Osborne yang judulnya "One of Us"
What if God was one of us?
Just a slob like one of us?
Just a stranger on the bus
Trying to make His way home?