Senin, 20 Maret 2017

#DailyGratitude 7 : Tentang Blog Buku Kimi


Ini saya lagi baca buku. SUmber gambar dari sini

Beberapa hari yang lalu saya sempat cerita kalau Si Kimi kasih saya daftar pertanyaan yang banyak banget untuk saya jawab terus saya isi terkait dengan kegemaran saya membaca. Katanya, dia mau mewawancarai saya untuk dia posting di blog bukunya. Duh, saya mimpi apa coba? Kan saya deg-degan kalau dengar kata wawancara. Hahaha...tapi-tapi, terus terang saya mengagumi keteraturan Kimi dalam membangun blog bukunya. Coba aja deh kamu mampir ke sini,  bertaburan review buku yang pernah dia baca dan interview dengan beberapa orang yang juga menyayangi buku. Idenya itu, loh. Kok selalu keren. 

Minggu, 19 Maret 2017

#DailyGratitude 6 : Rawon Eyang

Ini gambar paling mirip sama rawon eyang. Sumber dari sini 

Soal saya dan rawon ini ada sedikit cerita. Dulu, sebelum dekat dengan Om Taurus, saya sama sekali tidak tahu apa itu rasanya rawon. Bentuknya pun saya tidak tahu. Nah, waktu itu sekitar tahun 2007, saya dan Om Taurus bertemu lagi setelah terpisah hampir delapan tahunan #miriptalikasih. Kami makan di sebuah rumah makan di Jogja. Saya lupa namanya. Yang pasti, rumah makan itu menyediakan rawon. Tapi saya tidak memesan rawon, tentu saja. Wong bentuknya saja saya tidak tahu. Om Taurus yang memesan rawon. Saya memesan apa ya? Lupa. 

Sabtu, 18 Maret 2017

#DailyGratitude 5 : Me Time, Sebuah Sapaan, dan Marshmallows Bakar

Gambar dari sini
Sabtu ini saya benar-benar punya waktu untuk Me Time. Buka dengan pergi ke salon atau nonton Goblin yang mentok di episode 5 dan gak lanjut-lanjut lagi itu, tapi saya seharian di depan leptop untuk menulis. Zahir seharian ini bermain di rumah Bundanya (tantenya). Setiap nginep di rumah Eyang, Zahir memang sibuk sekali. Jadwalnya padat. Mulai dari main di rumah Bunda, ikut Mamatik (tantenya juga) antar bekal Mbak Hana ke sekolah, main ke rumah Bundanya yang satu lagi, main mobilan, main sepeda, nonton Lego, main games, nonton video monster truck off road, nonton video monster truck in action, mewarnai dan masih banyak lagi. Itu belum ditambah jadwal mandi, makan, dan tidur siang. Pokoknya, kalau di rumah eyang, saya kadang harus bikin janji dulu untuk bisa bertemu Zahir #inilebay. 

Jumat, 17 Maret 2017

#DailyGratitude 4 : Eat, Pray (Before Eat), Love (To Eat)

Ini saya kalau makan. Gambar dari sini

Hari ini saya sudah benar-benar siap untuk kembali masuk kantor karena dari kemarin sudah ditelepon oleh orang kantor kalau ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Padahal ini hari Jumat, padahal besok sudah libur lagi. Padahal kasurnya masih rindu sama saya. Padahal....😢 Tapi, bisa kembali masuk kantor dalam keadaan sehat adalah hal pertama yang saya syukuri hari ini. 

Tentang Soes Lapena, Pringsewu, Lampung


Gambar dari sini

Di dekat kantor saya sekarang sudah dibuka kedai kue soes. Lokasinya tidak jauh dari Tugu Gajah Pringsewu. Kalau dari kompleks pemda, Tugu Gajah ke arah kanan. Setelah Indomaret yang kanan jalan, perhatikan sebelah kiri, tidak jauh dari situ ada bangunan rumah berwarna oranye dengan plang nama bertuliskan "Soes Lapena The Most Delicious Cream Puffs" di depannya. Di atas tulisan itu, ada logo bergambar gajah sebagai ciri bahwa Soes Lapena itu berasal dari Lampung. Alamat tepatnya di Jl.Ahmad Yani, Sidoharjo, Pringsewu. (Dari Arah Bandar Lampung 100 m setelah Dealer SUZUKI HINO)

Kamis, 16 Maret 2017

#DailyGratitude 3 : Menuju Sehat

Gambar dari sini

Saya belum masuk kantor, tapi keadaan saya sudah membaik. Itu hal pertama yang saya syukuri hari ini. Masih sedikit lemas, belum bisa ngomel-ngomel kalau Zahir berulah karena kepala seharian masih sakit. Ngomel sedikit, syaraf-syaraf di kepala rasanya langsung tegang dan bertambah sakit. 

Rabu, 15 Maret 2017

#DailyGratitude 2 : Writing is My Wonderland

Gambar dari sini

Saya masih sakit. Menurut surat dokter, saya harus beristirahat selama dua hari. Itu berarti sampai besok. Yang lumayan menyebalkan dari sakit kali ini adalah amanat dokter yang bilang kalau saya harus menjauhi ponsel dan leptop sementara waktu untuk beristirahat. Om Taurus seperti biasa menjadi polisi yang memastikan kalau peraturan harus ditegakkan. Lah, kok saya malah ngeluh. 🙈

Selasa, 14 Maret 2017

#DailyGratitude 1 : Awesome People Around You


Saya sakit. Demam saat di kantor tadi. Padahal paginya sehat-sehat saja. 

Seorang teman bertanya? "Kok tiba-tiba sakit? Kayaknya tadi pagi sehat-sehat aja. Modus ya karena atasan pada nggak masuk?" 

Hm...saya tahu pertanyaannya bercanda, tapi dalam kondisi badan panas begini, wajar rasanya kalau sumbu saya gampang tersulut. Agak keras, saya jawab, "Mati aja bisa mendadak, apalagi kalau cuma sakit. Dan kalau atasan nggak masuk, bukankah lebih enak untuk ada di kantor. Tidak terlalu banyak kerjaan dan suasana juga lebih santai." 

Senin, 13 Maret 2017

Tentang #DailyGratitude

sumber gambar dari sini
Setelah berhari-hari tidak update blog, saat mampir di blognya Tan Sis, saya menemukan challenge baru. Duh, iya saya ini orang yang belum bisa rutin mengisi blog atas dasar kesadaran pribadi jadi harus ikutan challenge dulu baru deh rutin nulis. Challenge baru yang tidak baru lagi ini adalah #DailyGratitude. Challenge ini mengajak saya untuk menulis tentang hal-hal apa saja yang membuat saya bersyukur setiap harinya. Simpel kan? Kayaknya sih begitu makanya saya ikutan. Tapi apa bakal sesimpel itu? Belum tahu karena kadang saya lebih ahli mengeluh dibanding bersyukur. Berapa lama? 21 hari saja deh. Saya kan orangnya bosenan *alesan*

Sabtu, 11 Maret 2017

Day 21 : Memposting Semua #Misi21 yang Belum Diposting

Postingan ini akan menjadi postingan yang sangat panjang karena setelah ratusan purnama tidak posting di blog ini, saya memutuskan misi terakhir ini adalah Memposting Semua #Misi21 yang Belum Diposting karena alasan ini dan itu. Postingan terakhir saya berhenti di Day 5 : Tidak Membuka Socmed 12 Jam jadi saya akan mengawali postingan ini dari hari ke 6 hingga hari ke 21.

Tentang Puisi yang Menampar


Satu-satunya buku puisi yang saya miliki adalah kumpulan puisinya Wiji Thukul milik Om Taurus (punya Om Taurus berarti punya saya juga yes). Itu juga edisi terbatas karena merupakan bonus dari membeli majalah Tempo edisi khusus Wiji Thukul. Ada dua puisi Wiji Thukul yang saya catat dan ingat-ingat terus karena lumayan menampar. Dua puisi Wiji Thukul ini berjudul Meditasi Membaca Buku dan Catatan.

Senin, 27 Februari 2017

Tentang Es Krim Glico Wings



Haku Monaka Vanilla

Es krim Jepang produksi Ezaki Glico dan didistribusikan oleh Wings Food (makanya namanya di Indonesia jadi Glico Wings) ini rekomendasinya si adik, mahasiswi kekinian yang selalu paling update soal banyak hal. Jadi tadi, saat sedang mampir ke Chandra dekat rumah, adik agak heboh saat melihat box es krim bertuliskan Glico Wings. 

Minggu, 26 Februari 2017

Bakso Upil, Bandar Lampung


Gambar dari sini
Minggu pagi ini, Om Taurus mengajak saya mencari sarapan di luar. Seperti biasa, kami mau mencoba tempat baru. Dan yang selalu jadi PR saya adalah saya yang harus menentukan tempat baru mana yang mau kami datangi untuk sarapan. Ada beberapa pilihan antara lain soto di depan Chandra lama daerah Teluk, tapi saat kami ke sana tidak ketemu tempatnya dan beberapa tempat lain hasil surfing saya di instagram sigerfoodies. 

Jumat, 24 Februari 2017

Membeli Buku Puisi





Flight saya hari ini jam 11 pagi tapi kami sampai di bandara jam 9 hahaha...Cupu banget ya. Datang pagi gini ke bandara bukan tanpa alasan, lho. Saya kan lumayan penuh perhitungan #cieh. Pertama karena saya terawang bahwa kami bakal over baggage. Kedua karena saya mau punya waktu agak banyak untuk santai tanpa terbebani dengan belanjaan kami yang seabrek-abrek. Dan benar saja, bagasi kami kelebihan 7 kg yang membuat kami kena extra charge

Kamis, 23 Februari 2017

Kopdar

Barang bukti pertemuan kami
Ini hari ke-3 saya di Jogja. Itu berarti besok saya akan segera meninggalkan Kota Gudeg ini untuk kembali ke Bandar Lampung. Malam ini tidak mau saya lewatkan seperti malam kemarin di mana saya ngider-ngider di Malioboro sendirian karena sudah terlalu malam untuk menghubungi teman-teman saya yang mayoritas masih anak muda dan punya jam malam. Semalam saya sempat juga menghubungi Mas RD, tapi karena selama ini kami hanya berkomunikasi lewat blog, saya tidak punya nomor kontaknya. Dan kenapa juga saya tidak kepikiran minta kontaknya ke Kimi, ya? Doh!

Rabu, 22 Februari 2017

Oseng Mercon Bu Narti, Jogjakarta


Gambar dari sini
Setiap kali mencari referensi untuk wisata kuliner, sangat sering saya mencari berdasarkan selera pribadi, yaitu rasa pedas. Jadi, keyword pencarian saya di google biasanya kuliner pedas khas daerah X yang terkenal atau kuliner pedas khas daerah X wajib dikunjungi. Jadi tidak heran kalau misalnya, di beberapa tempat makan yang saya masukkan dalam list wajib mampir, selalu terselip nama tempat makan yang terkenal dengan rasa pedasnya. 

Lumpia Samijaya, Malioboro, Jogjakarta

Lumpia Samijaya
Membaca beberapa artikel tentang kuliner Jogja, saya menemukan sebuah kesamaan yaitu Lumpia Samijaya. Saya penasaran, apa yang menarik dari lumpia ini sehingga begitu digandrungi? Bahkan, pembelinya harus antre panjang untuk bisa membawa pulang beberapa buah lumpia. Lokasinya kebetulan sekali bersebelahan dengan Hotel Mutiara Baru, tempat saya dan rekan saya menginap saat kami ada tugas negara ke Kota Jogja. Lumpia ini dinamakan Lumpia Samijaya karena lokasinya yang pas berada di depan toko Samijaya. Toko Samijaya sendiri sepertinya adalah toko yang menjual pc, leptop, dan gadget lainnya. 

Rabu, 15 Februari 2017

#Misi21 Day 5 : Tidak Membuka Socmed 12 jam.

Gambar dari sini

Hari ini libur nasional karena di beberapa daerah sedang melangsungkan pemilihan kepala daerah. Termasuk kabupaten tempat saya bekerja. Kenapa #Misi21 kali ini hanya tidak membuka socmed? Kenapa tidak sekalian No Gadget? Karena saya butuh nelpon/whatsapp/bbm beberapa orang terkait pekerjaan kantor. Tapi percayalah. Sampai jam segini saya tidak tahu apa yang diposting teman-teman saya di path, facebook, instagram, twitter, line, dll. Dan sampai jam segini juga saya tidak tahu berita terkini terkait pilkada DKI Jakarta dan pilkada daerah lainnya. Bukan. Bukan berarti saya benci politik. Mana bisa. Kuliahnya di FISIP masa' benci politik. Benci tokohnya mungkin, tapi saya tidak mungkin membenci ilmunya. Jadi ketidaktahuan saya ini benar-benar demi menyukseskan #Misi21. 

Selasa, 14 Februari 2017

#Misi21 Day 4 : Tidak Makan di Atas Jam 6 Malam

Gambar dari sini

Soal misi ini, saya teringat teman saya sewaktu kuliah dulu. Namanya Egi. Dia selalu complain tentang kebiasaan makan saya dan Uyen yang dinilai tidak beradab. Hahaha...Bayangkan saja, jadwal makan kami acak-acakan, mirip dengan jadwal tidur kami, mirip dengan kamar kosan kami, mirip juga dengan kehidupan percintaan kami...#eh

Senin, 13 Februari 2017

#Misi21 Day 3 : Berpakaian Lebih Rapi

Sebenarnya, soal lebih rapi ini, saya menggarisbawahi pada penggunaan jilbab. Jujur saja, sejak awal berjilbab empat tahun yang lalu, saya terbiasa memakai jilbab simpel. Sangat jarang memakai ciput (dalaman jilbab), jilbab juga hanya dipeniti di bagian bawah dagu dan sisanya disampirkan di bahu kiri dan kanan. Benar-benar seadanya. Akibatnya, saat terpaksa naik ojek masuk ke komplek perkantoran atau pergi makan siang dengan teman yang menggunakan motor, bisa dipastikan jilbab saya berantakan, rambut juga mencuat ke mana-mana. Benar-benar tidak nyaman. Simpel tapi tidak nyaman. Sederhana tapi tidak sesuai aturan dan fungsinya.

Minggu, 12 Februari 2017

#Misi21 Day 2 : Mengeksekusi Empat Resep

Saya suka makan. Suka sekali. Bisa dibilang, selama makanan itu tidak menjijikkan dan halal, saya bisa suka. Pagi ini saya terbangun dengan bingung. Saya langsung berpikir mengenai hari ke-2 di #Misi21 ini. Apa yang akan saya lakukan hari ini? Tepatnya, hal baru apa yang akan saya lakukan hari ini? Menjelang siang sedikit, saya mulai tahu harus apa hari ini. Dan itu berhubungan dengan makanan. 

#Misi21 Day 1 : Mengunjungi Kotabumi

Gambar dari sini

Menurut pemahaman saya, #Misi21 ini harus direncanakan sebagai sebuah #Misi21, bukan hal yang memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Harus dipilih sebagai #Misi21, bukan hal yang memang sudah seharusnya terjadi. Dari pemahaman asal-asalan itu, saya akhirnya menobatkan perjalanan ke Kotabumi hari ini sebagai #Misi21 karena walaupun ini judulnya kondangan dan undangannya sudah jauh-jauh hari, tapi saya punya pilihan untuk tidak ikut. Karena #Misi21, saya memutuskan ikut. Iya, kan? Bisa, kan? #iyainaja

Sabtu, 11 Februari 2017

Tentang #Misi21

Gambar dari sini

Saya membaca tentang #Misi21 setelah membaca blognya Mas Rd. Di sana saya akhirnya diberi link ini yang menjelaskan mengenai asal usul #Misi21, pengertian, dan tujuannya. Singkatnya, #Misi21 bagi saya adalah melakukan hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya dan menuliskannya kembali di blog ini selama 21 hari ke depan. Hal-hal baru itu harus berbeda setiap harinya. Nah, berhubung di usia yang lumayan banyak ini sudah banyak juga hal-hal yang saya lakukan, maka kata belum pernah di atas, saya longgarkan sedikit menjadi belum pernah atau jarang sekali saya lakukan. 

#Misi21 ini sebenarnya sudah jadul banget, boomingnya saja sekitar 7 tahunan yang lalu. Kemana aja gueeeh? Oh, saat itu kayaknya saya lagi sibuk-sibuknya nyari duit di Jakarta *alesan*. Walaupun jadul, bukan berarti tidak relevan lagi untuk dilakukan. Apalagi kalau tujuannya hanya untuk bersenang-senang, membuat hidup lebih hidup, dan rutin posting di blog. Masih amat sangat relevan. Hahaha..

Intinya saya mengambil kesimpulan bahwa #Misi21 ini cukup menantang, layak diperjuangkan, dan tujuan besarnya, syukur-syukur bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi kehidupan saya sehari-hari. Tujuan kecilnya sih, supaya saya bisa melakukan hal-hal baru (yang positif tentu saja) walaupun sederhana dan menuliskannya lagi secara rutin di blog ini. 

Sekian dulu pembukaannya. #Misi21 akan saya mulai hari ini. Ikutan, yuk Gaeees! 😎

Kamis, 09 Februari 2017

Tentang Menjelaskan dengan Cara yang Sederhana


Gambar dari sini

Saya jadi ikut-ikutan teman-teman saya yang menulis judul berawalan kata 'Tentang'. Ternyata menulis judul dan mengawalinya dengan kata 'Tentang' lumayan memudahkan saya. Karena kata 'Tentang' seolah bertanya dengan baik-baik mengenai isi tulisan saya, tidak memaksa kening saya berkerut-kerut menerjemahkan keseluruhan isi tulisan dalam satu kalimat bernama Judul. Jadi ini adalah tulisan pertama saya yang menggunakan kata 'Tentang' sebagai judul. 

Saya sedang membaca buku berjudul Air Frame Petaka di Angkasa, karya Michael Crichton. Buku ini lumayan lama tidak tersentuh karena saya merasa buku ini akan membosankan. Tentang kecelakaan pesawat. Penyelidikan penyebab kecelakaan yang tentu akan melibatkan instrumen-instrumen rumit, istilah-istilah sulit, dan juga penyelidikan yang berbelit-belit. Tentu tidak akan menyenangkan membaca sebuah buku yang penuh dengan istilah-istilah yang tidak kita pahami dan jarang kita dengar. Tapi benar kata pepatah lama, don't judge a book by it's cover. Saat stok buku di kamar habis, dan saya malas pergi ke kamar sebelah yang sekarang beralih fungsi sebagai tempat tumpukan buku belum dibaca, hanya ada buku Crichton ini, saya pun membuka bungkusnya dan mulai membaca.

Senin, 06 Februari 2017

Day #30 Writing Challenge. "DONE"

Yeay. Alhamdulillah akhirnya tulisan ke 30 dalam Writing Challenge ini berhasil diposting juga. Sejak diajak ikut oleh Kimi, saya awalnya tidak terlalu excited mengingat kedisiplinan saya yang biasanya hanya bertahan dua minggu. Tapi Kimi terus kasih saya semangat, kadang dia bela-belain nelpon atau chat hanya untuk nanya kenapa saya belum posting. Saya pun woro-woro di grup 'itu' untuk mengajak yang lain ikutan biar saya tambah semangat. Walaupun begitu, tetap saja Writing Challenge ini tidak sempurna karena saya tidak patuh pada rules. Malah membuat rules sendiri yang memudahkan saya, misalnya ngacak-ngacak tema yang telah saya sepakati atau karena terlalu sibuk, tidak posting tepat waktu sehingga setiap kali posting malah borongan. 

Tapi, di luar ketidaksempurnaan itu, saya bahagia karena blog ini akhirnya ramai lagi. Ada perasaan kehilangan saat sehari saja tidak menulis atau sehari saja tidak menyapa teman-teman saya melalui tulisan-tulisan mereka. Itu juga perasaan bahagia jenis lain. Bahagia karena saya berhasil mengembalikan kegiatan menulis di tempatnya, yaitu sebagai sebuah kebutuhan. Semoga setelah 30 postingan ini, saya tidak kembali malas-malasan.

TAMAT

Day #29 Writing Challenge "Things That Make You LOL"

Saya punya kebiasaan keliling-keliling blog teman dulu sebelum mulai menulis. Biar apa? Biar saya bisa nyontek temanya. Hahaha...Dan malam ini, orang yang beruntung untuk saya contek temanya adalah Heru lagi. Tema ini sulit-sulit sukar karena saya orangnya suka banget ketawa. Baik ketawa rame-rame maupun ketawa sendiri. Teman kantor saya yang instruktur senam, sempat bilang kalau usia segini jangan banyak-banyak ketawa nanti garis-garis halus di ujung bibir dan ujung matanya cepat kelihatan, nanti jadi kayak orangtua. Saya diem. Bentar aja. Paling lima detik, kemudian lanjut ketawa lagi karena ucapannya tadi. Nah, memilih beberapa hal yang banyak itu untuk ditampilkan di postingan ini cukup sulit, jadi saya akan tulis yang masih saya inget saja. (Yaeyaaalaah)

Jumat, 03 Februari 2017

Day #28 Writing Challenge "A Confession"

Gambar dari sini

Jeng..jeng..jeng...

Hari ke 28 dan temanya agak menantang. Pengakuan. Pengakuan ini biasanya diikuti dengan kata 'kesalahan' karena kalau mengaku yang baik-baik, orang jarang percaya hehehe. Lagian hal yang baik harusnya tidak perlu diaku-aku, kan? 
Sembunyikan kebaikanmu seperti kamu menyembunyikan dosa-dosamu #tsah

Kamis, 02 Februari 2017

Day #27 Writing Challenge "Nicknames You Have, Why Do You Have Them?"

Gambar dari sini

Hari ini saya dibuat ngakak oleh seorang teman. Teman saya ini memang lucu orangnya. Kadang celetukan-celetukan dia bisa bikin hari saya jadi berwarna tiba-tiba. Jadi tadi kami memang sedang ngobrol lewat ponsel dan saya tadi batuk. Dia langsung dengan sok manisnya bilang, "Kamu sakit? Aku jemput ya." Jelas saya ngakak. Kalau nggak kenal dia mungkin bakal menganggap ucapan itu so sweet banget tapi karena saya kenal dia, ya ngono lah. Setelah saya ngakak, dia bilang lagi, "Tuh, kan, tiap gw tulus, pasti selalu nggak dianggap. Gw itu kayak kepingan puzzle paling pojok, yang kalau hilang juga masih bisa ditutupin jempol kalau puzzlenya mau dipamerin ke orang-orang." Dan gw ngakak lagi. You've made my day...

PINTU HARMONIKA (CLARA NG & ICHA RAHMANTI)

gambar dari sini

Pintu Harmonika bercerita tentang kehidupan tiga orang sahabat yang tidak sebaya. Ada Rizal, cowok SMA yang beken di internet sebagai blogger dan selebtwit, Juni, cewek SMP yang pintar, suka membaca serial detektif, dan pernah jadi korban pembullyan di sekolah, dan David, anak kecil berusia 5 tahun yang cerdas dan tertarik pada hal-hal yang berbau misteri serta petualangan.

Selasa, 31 Januari 2017

Day #26 Writing Challenge "Five Blessings In Your Life"


Bicara soal blessings, rasanya lima poin saja tidak akan cukup mewakili banyaknya berkah yang telah saya terima. Dari hal-hal kecil macam nemu jarum pentul saat jilbab lagi awut-awutan, hingga hal-hal yang besar macam kesehatan dan masih banyak lagi. Tapi berhubung yang diminta challenge ini hanya 5, saya akan fokus ke hal-hal besar saja dulu. Jadi, berikut ini adalah five blessings in my life:

Senin, 30 Januari 2017

Day #25 Writing Challenge "What's In Your Bag"


Ini pukul 11 siang dan saya sedang menunggu beberapa orang yang akan menyampaikan data ke kantor. Tanpa data itu, pekerjaan saya belum bisa berjalan. Ada waktu sekitar beberapa menit sampai orang-orang itu datang dan saya memutuskan untuk blog walking ke blognya teman-teman saya. Namun, sudah saya baca beberapa dan mereka yang berjanji akan datang belum juga tiba. Sepertinya saya akan mengisi waktu dengan menulis tema yang ringan-ringan saja seperti, "Apa isi tas saya?"

Soal tas ini, sering menjadi pertanyaan teman-teman saya. Mereka bilang, "Isi tasnya apa aja, sih? Gede banget." Jadi, saya memang selalu memakai ransel. Ransel hitam yang saya beli di ZALORA di bagian tas pria. Hahaha...Karena seperti yang saya pernah bilang sebelumnya, dalam memilih barang, saya selalu mengutamakan fungsi dan kualitas. Tas pria, saya rasa sangat berfungsi dalam menanggung membawa beban berat kehidupan. Jadi soal pertanyaan teman-teman saya mengenai apa isi tas ransel saya, biasanya saya jawab dengan, "Apa aja yang ada di kantor. Kalau ada printer ya printer, kipas angin, AC, apa aja yang laku dijual, lah!" 

Jumat, 27 Januari 2017

BOTCHAN (NATSUME SOSEKI)



Natsume Soseki merupakan salah satu penulis terbesar dalam sejarah kesusatraan Jepang. Botchan, merupakan novelnya yang diterbitkan pertama kali di tahun 1906. Novel yang memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat Jepang ini berkisah tentang kehidupan Botchan, seorang pemuda Jepang yang mengajar matematika di sekolah menengah daerah Shikoku. 

Day #24 Writing Challenge "My Last Birthday"

Saya pilih tema ini bukan karena sangat berkesan, tapi karena baru saja terjadi sehingga masih lumayan ingat apa saja yang saya lakukan di 13 Januari 2017 kemarin.

Seperti yang pernah saya singgung sedikit di sini, saya punya keinginan sederhana. Saya ingin melihat laut saat membuka jendela atau pintu kamar di hari ulang tahun. Keinginan sederhana itu jadi tidak terlalu sederhana karena saya tidak tinggal di daerah pantai. Saya juga tidak sedang wisata dengan kapal pesiar. Jadi keinginan ini lebih ke 'kode' untuk Om Taurus supaya saya diajakin nginep di dekat pantai hahaha...

Day #23 Writing Challenge "A Quote You Try To Live By"



Duh, jarinya agak gemetar gini karena kelamaan bolos Writing Challenge haha...Sebenarnya setiap hari, sampai di kantor, saya pasti buka blog dan mengklik "New Entry" pertanda saya akan mencuri-curi waktu untuk menulis di tengah pekerjaan yang lagi heboh-hebohnya. Tapi sampai pukul 4 teng, tidak pernah ada sebaris tulisan pun yang berhasil diketik karena memang tidak sempat :(((

Lalu kenapa hari ini sempat? Karena hari ini saya tidak masuk. Setiap kali sekolah anak saya ada kegiatan di luar (outing class), saya pasti tidak masuk untuk mendampingi. Tidak sering, kok. Dalam sebulan belum tentu ada outing. Jadi, setiap izin, Alhamdulillah atasan saya pasti mengizinkan. 

Sabtu, 21 Januari 2017

Day #22 Writing Challenge "30 Facts About Me"

Gambar dari sini

Tema kali ini sih saya ngikutin temanya kembaran saya yang lahir beda tahun yaitu si Heru. Saya masih dalam mood malas-malasan untuk nyari-nyari tema lain. Setelah nulis blog dengan tone yang suram tadi pagi, saya mendoktrin diri sendiri kalau hari ini saya harus bahagia. Jadinya, setelah puas main-main dengan Zahir dan Zahir pun tidur siang, saya segera reservasi di tempat spa langganan yang jaraknya tinggal koprol kalau dari rumah eyangnya Zahir. Pulangnya saya minta Om Taurus untuk mampir di Ayam Penyet Surabaya karena saya jatuh cinta dengan sambal bawangnya. Setelah itu saya ngobrol-ngobrol dengan kakak ipar tentang buku Umar Kayam yang dia wariskan ke saya, tentang minat baca orang Indonesia, tentang Om Taurus yang cuma mau baca buku Wiro Sableng dan Robert Galbraith, tentang rencana kami sekeluarga ke Pahawang minggu depan, dan hal-hal asik lainnya. Setelah itu dia pamit pulang karena mau berburu minyak murah di weekend untuk melengkapi kebutuhan warungnya.

Nah, sekarang 30 facts about me kayaknya kebanyakan tapi mudah-mudahan bisa sampai segitu.

Day #21 Writing Challenge "My Curent Mood"

Gambar dari sini

Sekarang saya bahkan mulai semena-mena membuat tema sendiri. 

Hari ini, sulit sekali menghadirkan tulisan ber-tone ceria. Mood saya memang sedang jelek-jeleknya. Mungkin karena PMS atau mungkin juga karena saya sedang gagal mengharmonikan perasaan-perasaan dalam diri saya. Apa yang saya lakukan tidak berhasil selaras dengan apa yang saya inginkan. Kebutuhan diri saya akan keseimbangan terasa tidak serasi dengan hari-hari yang semakin sibuk memenuhi salah satu sisi saja. Lalu saya berpikir, apa yang salah?

Day #20 Writing Challenge "Tentang Kata Maaf"



Selain bolos posting, saya mulai malas mengikuti tema writing challenge ini. Jadi kali ini tidak menulis tema yang seharusnya. Seperti yang saya pernah bilang di sini, disiplin saya hanya bertahan sekitar 2 minggu saja, dan rasanya saya belum tertarik untuk berubah. Hehehe..

Saya teringat perkataan seorang atasan saya dulu saat saya bekerja di sebuah jaringan retail farmasi terbesar di Indonesia pada masanya. Dia bilang, 

Rabu, 18 Januari 2017

Day #19 Writing Challenge "Five Items You Lust After"

Hari ke 19. Temanya tentang 5 benda yang sangat-sangat diinginkan. Ini kalau ngayal aja nggak papa kan, ya? Soalnya, kalau nggak ngayal, setelah saya pikir-pikir, nggak ada benda yang sangat-sangat saya inginkan. Bukan karena saya horang kaya dimana semua benda yang saya inginkan bisa langsung saya dapatkan, tapi karena benda yang saya sangat inginkan itu biasanya receh. Jadi begitu ingin, bisa langsung beli. Es cendol, bakso sony, roti bakar, dawet hitam, sambal bawang...eh, makanan semua ya?


Jadi benda-benda yang sangat saya inginkan sampai sekarang (masih saya inginkan karena tidak bisa saya dapatkan) adalah :

GADIS PANTAI (PRAMOEDYA ANANTA TOER)



Gadis Pantai berkisah tentang seorang perempuan belia dari kampung nelayan yang memikat hati seorang priyayi. Pernikahan bahkan dilakukan tanpa mengetahui apakah Gadis Pantai sudah mengalami menstruasi pertamanya atau belum. Gadis Pantai dinikahkan dengan keris sebagai wakil dari seorang pembesar yang tidak pernah dilihatnya. Dimulailah kehidupannya sebagai Bendoro Putri di kota. 

Day #18 Writing Challenge "A Problem That You Have Had"



Gambar dari sini

Temanya tentang masalah. Saya sebenarnya nggak tahu ini nyambung atau tidak dengan tema writing challenge, kalau pun tidak, anggap saja saya sedang curhat ya. 

Jadi, sejak kecil saya ini sering sekali diganggu berinteraksi dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Kita sering menyebutnya dengan orang gila. Interaksi ini tidak sengaja saya bangun, tapi memang benar-benar kebetulan. Dan postingan ini tidak saya maksudkan untuk menjadikan orang gila sebagai bahan ejekan atau lelucon yaaa, benar-benar hanya sebatas curhat saja. 

Kembali ke orang gila tadi, ada beberapa momen yang saya masih ingat saat berinteraksi dengan mereka. Ini sebagian kecil di antaranya :

Minggu, 15 Januari 2017

KERUMUNAN TERAKHIR (OKKY MADASARI)


Ini adalah buku ketiga dari Okky Madasari yang saya baca setelah Entrok (2010) dan 86 (2011). Masih menyajikan kritik sosial, buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu Dunia Pertama, di mana Jaya mengalami kesedihan-kesedihan dalam hidupnya akibat perilaku Bapaknya yang suka main perempuan, Ibunya yang akhirnya meninggalkan Jaya dan adik-adiknya karena tidak kuat menerima perilaku Bapaknya, kisah cinta masa kuliahnya bersama Meira yang harus kandas karena kesedihannya ditinggal pergi Ibu, pelarian-pelariannya ke tempat-tempat asusila hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat, dan kepergiannya menyusul Meira untuk mencari apa yang dia anggap masa depan. 

Day #17 Writing Challenge "Something That You're Proud Of"

Gambar dari sini

Ada satu momen kecil yang saya ingat dan membuat saya bangga pada diri sendiri. Jadi, saat saya kelas 1 SD dan mendapat rengking pertama, ada seorang nenek teman saya yang bilang di depan muka saya, 
"Kamu kan rengking satu karena Mama kamu yang ngajar." 
Mama saya memang mengajar saya saat itu. Setahun kemudian, saat saya kelas  2 SD dan masih mendapat rengking pertama padahal tidak diajar lagi oleh Mama, saya berjalan di depan si nenek dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi. Saya baru sadar sekarang kalau mungkin saja nenek itu sudah tidak ingat dengan omongannya, mungkin juga dia heran dengan sikap saya yang mengangkat dagu tinggi-tinggi saat lewat di depannya. Jangan-jangan dia berpikir kalau saya sedang sakit leher? Kenapa saya tidak kepikiran ya? 

Momen selanjutnya adalah saat dulu Papa saya punya pulpen antena. Yaitu pulpen yang ujungnya bisa ditarik panjang sekali seperti antena mobil. Makin ke ujung, antenanya makin tipis. Saya kurang tahu juga fungsinya apa, yang pasti saat itu, pulpen itu terlihat keren. Jadi ceritanya, di komplek rumah saya dulu banyak anak laki-laki yang waktu dulu terlihat nakal. Saya baru belajar berani pergi ke warung sendiri. Akhirnya, karena takut diganggu, saya selalu membawa pulpen itu setiap kali disuruh Mama ke warung. Suatu hari, saya ke warung di saat anak-anak itu sedang berkumpul di depan pagar salah satu kawanan mereka. Mereka melontarkan ucapan yang saya tidak ingat tapi saat itu saya merasa diganggu. Dengan cekatan saya keluarkan pulpen ajaib saya, saya tarik ujungnya, dan saya putar-putar di depan mereka. Mereka tampak kagum. Dan saya bangga. 

Sekian.

Day #16 Writing Challenge "Something You Always Think 'What If' About"

Gambar dari sini

Kalau mendengar 'What if' ingatan saya otomatis melayang ke 3 lagu. Yang pertama lagunya, Kate Winslet yang judulnya "What if'".
What if I had never let you go
Would you be the man I used to know
If I'd stayed
If you'd tried
If we could only turn back time
But I guess we'll never know
Lalu saya jadi ingat lagunya Joan Osborne yang judulnya "One of Us"
What if God was one of us?
Just a slob like one of us?
Just a stranger on the bus
Trying to make His way home?

Jumat, 13 Januari 2017

Day #15 Writing Challenge "Your Zodiac/Horoscope and If You Think It Fits Your Personality"

Gambar dari sini

Dulu, dulu sekali. Saya orang yang sering menilai karakter seseorang berdasarkan zodiak. Saya juga sering mencocok-cocokan zodiak saya dengan zodiak pasangan. Misalnya saja saya selalu beranggapan kalau jodohnya Capricorn adalah Taurus atau Capricorn itu sendiri. Sering juga di sela-sela obrolan dengan teman, saya berkata, 
"Wajar dia keras kepala begitu, soalnya dia Gemini."
Singkatnya, saya dulu sangat percaya kalau hari lahir seseorang, berpengaruh terhadap karakternya. 

Tentang Hari Ini


Bahagia. Setiap hari pun bahagia. Tapi hari ini agak berbeda karena banyak ucapan dan doa yang mengalir dari mulut saudara dan sahabat tercinta. Saya hanya berharap dari banyaknya doa yang baik melalui ucapan selamat ulang tahun, ada doa yang menyentuh langit. 

Kado terbaik di awal tahun umur ini salah satunya datang dari sebuah e-mail yang dikirim oleh penerbit. E-mail pemberitahuan tentang naskah novel saya yang akan mereka kontrak untuk diterbitkan secara digital. Alhamdulillah. Terlepas nantinya kontrak itu akan berjalan atau tidak, saya mensyukuri bahwa naskah itu paling tidak bisa diterima oleh penerbit. Karena saya bahkan sudah lupa kapan mengirimnya. Naskah lama yang saya tulis saat masih kuliah dan direvisi beberapa tahun yang lalu. 

Day #14 Writing Challenge "What You Wore Today"

Sudah berapa hari saya bolos posting dan mulai merasa ada yang kurang kalau belum mengisi blog ini. Apa ini yang namanya cinta?
Apa yang saya kenakan hari ini? 
Hari ini saya izin tidak masuk kerja karena ada acara keluarga yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Berangkatnya masih nanti siang, tidak jauh sih, tapi berhubung menginap, sudah sejak semalam saya packing. Saat ini sambil mengetik postingan ini, saya memakai celana joger jeans dan t-shirt. Persiapan menjemput Zahir pulang sekolah. 

Soal celana joger ini ada cerita sendiri. Jadi waktu itu saya membeli celana ini lewat ZALORA. Beberapa hari kemudian celana jogernya datang beserta beberapa pesanan lainnya. Saya agak kaget saat tahu bahwa celana joger yang saya pesan, datang sebanyak 3 buah. Merek yang sama, ukuran sama, warna dan jenisnya pun sama. Intinya saya mendapat barang yang sama sebanyak 3 buah. Di satu sisi saya berpikir untuk mengembalikan barang ini ke ZALORA. Di sisi lain saya berpikir, 'Wah, lumayan nih. Bisa bagi-bagi ke adik juga.' hahaha...

Sambil sibuk membolak-balik form pengembalian barang yang memang selalu diselipkan dalam pesanan, saya iseng mengecek pesanan saya lewat aplikasi. Dan ternyata...Saya memang memesan 3 buah celana ini!! 

Rabu, 11 Januari 2017

Day #13 "What Is Your Opinion About Your Body and How Comfortable You Are With It?"

Omong-omong 13 adalah angka favorit saya. Ini hari ke-13 dan saya diminta memberi opini tentang tubuh saya dan seberapa nyaman saya hidup bersamanya...hahaha *terjemahan bebas*

Jadi, di usia yang dua hari lagi menginjak 31 tahun, saya menggendut! Dulu, berat badan saya berkisar 48 sekian. Setelah hamil Zahir naik sampai 52 kilogram, tiga bulan setelah melahirkan, turun lagi menjadi 50 kilogram lalu naik lagi dan terus bertahan di angka 52 kilogram. Tinggi badan masih di situ-situ saja. Bola mata hitam. Kulit sawo matang. Rambut ikal dan... eh ini diminta posting tentang apa sih? I have no idea. Hahaha...

Day #12 Writing Challenge "Five Guys Whom You Find Attractive"

Dunia nyata lagi butuh perhatian ekstra besar sampai-sampai dua hari ini saya nggak posting challenge. Challenge ke-12 ini adalah tentang lima cowok yang saya anggap menarik. Berhubung ada peluang sangat besar untuk curcol, maka saya mencoret nama-nama mantan pacar dan kecengan dalam postingan ini hahaha. Bukan karena tidak menarik, tapi mereka hanya menarik pada masanya. Jadi inilah nama-nama pria yang selalu menarik sampai hari ini. Entah esok hari, entah lusa nanti...(malah nyanyi)

1. Papa
Kalau ada yang bilang bahwa cinta pertamanya seorang perempuan itu adalah ayahnya, itu berlaku juga bagi saya. Papa adalah laki-laki pertama yang menjadi sosok idola dalam hidup saya. Dialah yang memacu saya untuk keluar dari rumah selepas SMA. Dia beri saya tanggung jawab besar untuk menjadi contoh yang baik untuk adik-adik saya. Dia juga yang selalu berkata bahwa sebagai perempuan, saya harus tangguh, bisa berdiri di atas kaki sendiri, dan punya sikap. Saat saya kuliah dulu, dia nyaris tidak pernah menelepon saya. Dia percaya bahwa saya akan baik-baik saja di luar sana. Dia jugalah yang membuat saya bersusah payah untuk menahan air mata walau dunia sedang galak. 

Minggu, 08 Januari 2017

Day #11 Writing Challenge "Your Family"

"Kalau pulang sekolah bukan Bik Na yang jemput, 
jangan pulang sendirian. 
Jangan mau diajak pulang sama orang lain."

Ada sebuah momen yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan tentang Bik Na. Saya pernah sedikit cerita tentang beliau di sini. Bik Na adalah adik Mama saya. Orang yang sampai saat ini masih selalu saya rindukan. Dia selalu mengatakan kalimat di atas setiap kali mengantar saya sekolah TK. 

Pernah suatu kali, dua orang laki-laki menjemput saya di sekolah. Karena teringat ucapan Bik Na, saya menolak untuk ikut dengan mereka. Mereka terus memaksa tapi saya juga terus menolak dan mengundang kecurigaan para guru. Saat itulah wajah Bik Na muncul dari tembok pembatas sekolah dan rumah sebelahnya. Dia berteriak dan melambaikan tangan kepada saya. Dengan cueknya dia bilang bahwa kedua orang laki-laki itu adalah temannya yang rumahnya kebetulan di sebelah sekolah saya. Bik Na sengaja melakukan itu untuk mengetes apakah saya menuruti ucapannya atau tidak.

Sabtu, 07 Januari 2017

Day #10 Writing Challenge "Put Your Music Player On Shuffle and Write The First Ten Songs That Play"

Gambar dari sini

Jadi hari ini temanya adalah 10 lagu pertama yang saya dengar di playlist. Masalahnya adalah pemutar musik di ponsel saya, memiliki kurang dari sepuluh lagu. Lagu-lagu itu juga sudah lama tidak diupdate karena saya lebih sering mendengar musik lewat youtube. Tapi tidak apa-apa demi terpostingnya challenge ini, saya akan mulai mendengarkan lagu-lagu tersebut.

Play ⏩
  1. Send My Love To Your New Lover (Adele), saya suka liriknya yang girl power banget
  2. Let Her Go (Jasmine Thompson). Saya suka Let Her Go-nya Passenger, saya suka Jasmine Thompson, jadi saat Jasmine Thompson menyanyikan Let Her Go, bahagia banget, kan?
  3. One Last Breath (Creed). Ini lagu yang setiap dihapus, didownload lagi, dihapus, didownload lagi..gitu terus. Karena apa? Karena rindu.
  4. Oh, It Is Love (Hellogoodbye). Lagu ini dikenalkan oleh seorang teman yang pernah dekat saat kuliah. Masih disimpan karena musik dan liriknya menceriakan. It is love from the first time i pressed my hand to yours. Thingking, "Oh, is it love"
  5. Lullabies (Yuna). Saya suka Yuna! 
  6. Anggun (Mimpi). Lagu ini tidak boleh dihapus oleh Zahir, padahal saya sudah bosan. Tapi dia tidak :( Lagu ini juga mengingatkan saya akan i-ring pertama yang saya pasang di ponsel nokia untuk kartu esia
  7. Pentatonix (Say Something). Siapa tidak suka pentatonix?
  8. Surat Cinta untuk Starla (Virgoun). Lagu ini tidak ada di playlist saya. Tapi beberapa hari ini saya sedang rajin mendengar lagu yang dikenalkan oleh seorang teman dekat. Dia katanya baru tahu ada lagu ini saat mendengar seorang pengamen bernyanyi. 
Nah, hanya delapan lagu ternyata. Selamat hari Sabtu dan salam sayang untuk orang di samping Anda. #halah.

THE 100 YEAR OLD MAN WHO CLIMBED OUT OF THE WINDOW AND DISAPPEARED (JONAS JONASSON)



Begitu banyaknya kesalahpahaman justru menjadikan buku ini penuh humor. Beberapa hal yang di dunia 'normal' tentu akan dianggap sebagai bencana, di buku ini dijelaskan seolah itu peristiwa yang biasa-biasa saja. Allan yang pada usia 13 tahun sudah menguasai keterampilan membuat ledakan itu biasa saja. Lenin yang mengambil alih kekuasaan juga biasa saja (satu-satunya yang membuat Lenin menjadi masalah pribadi hanya karena Lenin melarang segala bentuk kepemilikan pribadi atas tanah tepat sehari setelah ayah Allan membeli 12 meter persegi tanah yang akan beliau tanami strawberry Swedia), penjahat yang mati karena Julius lupa telah 'mendinginkan' penjahat tersebut dalam suhu di bawah beku selama 10 jam adalah peristiwa biasa. Seorang Jelita yang memelihara gajah bernama Sonya juga biasa, seorang penjahat yang mati terduduk Sonya juga biasa saja.

Satu-satunya yang dianggap penting hingga menjadi peristiwa besar adalah menghilangnya seorang kakek bernama Allan berumur 100 tahun dari rumah lansia. Yah, tentu saja itulah awal mula segala peristiwa yang 'biasa-biasa' saja dalam buku ini.

Day #9 "How Important You Think Education Is"

Saya ketiduran jadinya telat posting. Eh, bahasa 'ketiduran' ini, waktu jaman saya kuliah, setiap habis bilang 'ketiduran' pasti langsung ada seorang teman yang namanya Egi tidak usah disebut, ikut komentar, "Ketiduran siapa?" *abaikan*

Temanya agak serius dan saya baru saja bangun tidur gara-gara dengar Om Taurus buka pintu kamar entah dari mana. Mungkin ngubek-ngubek kulkas cari cemilan. Saya jadi nggak bisa tidur lagi dan keingetan belum posting hari ke #9. 

Pendidikan ini sebenarnya terlalu luas untuk dibahas. Jadi saya kasih batas sendiri kalau ini soal pendidikan formal. Setuju? Ya terserah. 

Kamis, 05 Januari 2017

Day #8 Writing Challenge "What You Ate Today"

Apa yang saya makan hari ini? Kalau saya jawab 'makan ati' boleh? Huft, asli hari ini saya 'makan ati' banget. Tapi sudahlah, hal tersebut sangat tidak penting untuk dibahas di sini. Jadi tema writing challenge hari kedelapan ini adalah apa yang saya makan hari ini. 

Terus terang, sedari tadi pagi sampai sekitar jam 2-an siang saya belum makan apa-apa kecuali combro, gudeg, dan tumpeng. Mulut saya baru sempat silaturahmi dengan nasi ya sekitar jam 2 itu tadi. Eh, saya tidak becanda soal combro #yedibahas. Tadi pagi saya memang sempat makan combro yang dijual di pinggir jalan menuju kantor. Combronya enak banget dan agak pedas. Jadi dimakan tidak pakai nasi cabai pun sudah bahagia. 

Rabu, 04 Januari 2017

Zahir dan Kartu Pos Pertamanya.

Seharusnya, postingan ini saya pos beberapa hari yang lalu. Namun, kantor akhir-akhir ini lagi 'caper' sehingga saya dipaksa memberi lebih banyak waktu untuknya.

Sejak saya mengepos foto tentang Zahir yang saya kirimi surat dan dibaca lalu dibalas olehnya, beberapa orang teman dan keluarga berniat untuk mengirimi Zahir surat. Saya sih girang banget karena itu berarti ada kesempatan lagi untuk membuat Zahir bersenang-senang dengan bacaan. 

Day #7 Writing Challenge "Five Pet Peeves"


Untung yang diminta cuma lima, kalau lebih, mungkin saya bakal nyontek. Hehehe....Saya jarang kesal sih, kalau dendam sering #lah. Setelah memilah-milah dari ribuan hal menyebalkan di dunia (yang bisa saya ingat), sepertinya lima hal ini cukup mewakili. 

Selasa, 03 Januari 2017

Day #6 Writing Challenge "Your Views On Mainstream Music"


gambar dari sini

Sudah hari ke enam, itu berarti masih ada 24 hari lagi tersisa untuk menyelesaikan tantangan ini. Kalau tantangan ini selesai, berarti ini adalah bulan paling produktif sepanjang umur blog ini lahir di tahun 2011. Hari ke enam temanya adalah, "your views on mainstream music." Soal kata mainstream ini, sering jadi bahan becandaan saya dan Om Taurus. Menurut dia, mainstream adalah nama tengah saya. Dia nyaris benar sih, karena hampir seluruh kebiasaan dan kegiatan saya adalah hal-hal yang mainstream. Saya suka jalan-jalan, saya suka selfie dan wefie, saya suka ke mall, saya senang mampir di kafe-kafe hits, saya menikmati mendengarkan lagu-lagu populer, walaupun bukan pemburu film-film Korea tapi saya adalah penikmat wajah-wajah ganteng aktor Korea, saya suka gonta-ganti sabun mandi karena tergiur iklan, saya pemburu diskon online shop, saya memiliki hampir semua akun social media, dan masih banyak hal-hal mainstream lainnya. Sementara Om Taurus, dia adalah manusia yang hampir sebagian besar minatnya berkebalikan dengan saya. 


Senin, 02 Januari 2017

Day #5 Writing Challenge "Something That I Miss"

sumber gambar dari sini


Dulu, ada dua tempat yang saya anggap sebagai rumah. Rumah tinggal sejak saya kecil dan rumah nenek (saya memanggilnya Ombai) tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu kecil dan remaja saya.

Rumah kecil berlantai dua yang terletak di ujung sebuah gang Kota Bandar Lampung. Sejak 3 orang tercinta penghuni rumah tersebut satu persatu meninggalkan kami di dunia, maka rumah itu kosong. Ditempati orang lain yang tidak saya kenal. Sewa mungkin. Memiliki mungkin. Bukan urusan saya. Tanpa Bik Na, Akas, dan Ombai rumah itu tidak akan sama.

Sudah lewat lebih dari belasan tahun dan rumah itu selalu berhasil memaksa saya untuk mengingatnya. Betapa saya selalu merindukan rumah tersebut. Kerinduan yang tidak akan pernah ada pelampiasan. Kerinduan akan kenangan-kenangan yang sudah pergi. Kerinduan yang hanya akan jadi kerinduan karena saya sadar itu tidak bisa terulang lagi. Kerinduan yang permanen. Lalu apa yang saya rindu? Hal-hal kecil dan simpel saja. Hal-hal yang dulu tidak saya sadari bahwa akan berarti.

Saya rindu duduk di ruang tamu bersama Akas (kakek) di pagi hari. Kami berdua sibuk membaca Buana Minggu. Koran harian saat itu. Ada warna pinknya kalau tidak salah di logo korannya. Saya tidak tahu Akas suka membaca rubrik apa. Tapi saya selalu membaca rubrik hal-hal yang aneh tapi nyata. Entah apa judul rubriknya, tapi seperti itulah gambaran isinya. Saya baca tentang anak perempuan yang tidak bisa terkena air karena kulitnya akan langsung melepuh. Dia tidak bisa main hujan, kasihan. Bahkan dia tidak bisa menangis karena akan menyakiti dirinya sendiri. Saya juga baca tentang orang yang tidak bisa berekspresi. Senang, sedih, marah, kesal, semua dengan raut wajah yang sama. Ada kelainan di syaraf wajahnya diagnosa dokter. Dunia sudah aneh buat saya sejak saat itu. 

Saat santai bersama Akas setiap pagi, kadang saya ikut-ikutan merokok seperti Akas. Rokok yang aneh kata saya saat itu. Tidak sama seperti rokok filter milik Papa. Rokok akas  dilinting sendiri. Kertas rokok yang terbuat entah dari daun apa kemudian diisikan tembakau sesuai selera. Banyak atau sedikit terserah kita. Tapi Akas selalu kasih sedikit sekali untuk saya. Padahal simpanan tembakaunya yang ada di satu dompet khusus penuh terisi. Setelah dilinting kemudian rokok dibakar. Yang paling saya suka dari rokok ini adalah harumnya. Keharuman yang tidak akan mungkin didapat oleh rokok-rokok berfilter (mungkin, entahlah saya tidak pernah mencoba rokok berfilter). Lucunya saya dan Akas sangat menikmati momen pagi ini. Tidak ada larangan keras dari beliau. Akas hanya berpesan jangan banyak-banyak tembakaunya. Tapi anehnya saya tidak merasa sebagai perokok. Karena memang bukan. Bagi saya, saat itu adalah waktu menikmati tembakau asli yang dibakar. Menikmati harumnya. Dan saya benar-benar rindu harumnya. Saya belajar mencintai sebuah nilai-nilai klasik sejak saat itu.


Saya rindu Bik Na (adik Mama). Suaranya yang khas. Sikapnya yang supel. Selalu ceria. Cerewet luar biasa. Saya rindu suapannya yang penuh dan komplit di tiap sendok yang masuk ke mulut saya. Jago masak keluarga. Saya rindu sambal terasinya yang diberi sedikit gula. Ada juga sambal terasi yang dia buat khusus untuk Ombai. Sambal terasi ikan namanya. Sambal terasi yang dicampur dengan suwiran ikan goreng kemudian diulek kembali yang kemudian suka saya cicipi juga karena enak ternyata. Saya rindu mie goreng yang dijadikan mie rebus buatan Bik Na. Sampai sekarang tidak pernah berhasil saya duplikat rasanya. Mungkin rasa itu cuma ada di kenangan saja. Tidak akan bisa sama.


Saya rindu kamar Bik Na. Kamar di lantai dua rumah tua itu. Kayu saja lantainya. Kasur dan ranjang besar hampir sebesar kamar. Hanya menyisakan sedikit ruang untuk lemari. Di dinding kamar ada rak buku dari papan melintang lurus. Banyak buku di sana. Di sana saya temukan Noni. Pernah saya temukan juga novel dewasa. Ada tape recorder tua di kamar itu. Setia memutar lagu-lagu hits di zamannya. Zaman mudanya Bik Na. Tapi saya suka lagu-lagu itu. Dulu saya hapal semua. Ada penyanyi wanita kembar dengan suara mendayu-dayu. Saya lupa nama mereka. Rambutnya keriting mengembang. Suaranya membuat pilu. Saya merekam ingatan akan melankolis dan sendu dari lagu-lagu yang diputar di kamar Bik Na.


Ah ya, di kamar itu juga ada jendela. Saya rindu jendela itu. Angin masuk dari sana. Tidur dengan jendela dibuka enak sekali. Angin sepoi-sepoi meniup wajah. Tidak kencang seperti kipas angin. Tidak dingin seperti AC. Itu sejuk. Dari jendela itu juga saya bisa melihat dunia. Dunia kecil di gang kecil. Bukan pemandangan indah yang terpampang di sana. Hanya seng dan genting tetangga. Hanya atap-atap rumah yang berdempetan. Tapi dari jendela itu saya bisa melihat apakah tukang bakso langganan kami sudah datang atau belum. Jam 11 biasanya dia sudah memukul-mukul mangkok bakso sebagai pemberitahuan kepada seluruh penghuni gang. Kalau sudah terlihat dari jendela, segera saya berlari ke bawah menyambutnya. Pesan semangkok baksonya saja. Kecap yang banyak hingga hitam. Kemudian sambal dan saos yang banyak. Kadang saya makan dengan nasi. Cara yang diajarkan juga oleh Bik Na. Ya, saya kenal vetsin di sana.

Saya rindu Ombai. Ombai yang tidak pernah marah. Ombai dengan rambut panjangnya yang lebih dari sepinggang. Rambut yang dulu hitam bercampur putih kemudian menjadi putih semua. Tidak ada poni. Semua disisir ke belakang kemudian digelung, rapi, walau hanya dengan tangan. Sanggul kecil saja karena tipis rambutnya. Ombai dengan kebayanya yang selalu bermodel sama. Motif saja pembedanya. Selalu berpasangan dengan kain. Tidak ada kaos. Tidak ada celana. Setiap hari itu penampilannya. Ombai yang putih kulitnya seperti milik Mama. Ombai yang wangi karena rambutnya yang setiap hari ia olesi minyak urang-aring. Ombai yang penuh dengan bintik-bintik seperti kutil kecil di wajahnya. Ombai yang tidak saya tangisi kepergiannya karena entahlah, mungkin saya sudah pasrah daripada melihat Ombai terus sakit di masa tuanya.

Lalu ada sumur itu. Sumur di belakang rumah yang jadi satu-satunya sumber air di rumah Ombai. Air minum, air cuci, air mandi. Sumur yang harus dibagi dengan 3 tetangga yang lain. Sumur tua dengan pinggiran licin dan berlumut. Sumur tua dengan air jernih dan segar. Tempat mandi semasa kecil. Dituang air dari atas oleh Bik Na dengan ember timba untuk membersihkan sisa sabun sekaligus shampo di badan.


Bagaimana saya bisa tidak rindu sementara rindu itu adalah rindu terpendam selamanya. Rindu yang tidak akan pernah tersampaikan kecuali lewat doa terhadap mereka orang-orang tercinta yang kini telah tiada. Mereka yang telah memberi masa kecil dan remaja yang luar biasa.



The echoes and silence,
patience and grace and all of these moments i'll never replace.
Fear of my heart absence of faith, 
all i want is to be home. All i want is to be home.
People i've loved with no regrets. Some might remember, some might forget.
Some of them livin', some of them dead. All i want is to be home 
(Home, Foo Fighters)