Senin, 02 Januari 2017

Day #5 Writing Challenge "Something That I Miss"

sumber gambar dari sini


Dulu, ada dua tempat yang saya anggap sebagai rumah. Rumah tinggal sejak saya kecil dan rumah nenek (saya memanggilnya Ombai) tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu kecil dan remaja saya.

Rumah kecil berlantai dua yang terletak di ujung sebuah gang Kota Bandar Lampung. Sejak 3 orang tercinta penghuni rumah tersebut satu persatu meninggalkan kami di dunia, maka rumah itu kosong. Ditempati orang lain yang tidak saya kenal. Sewa mungkin. Memiliki mungkin. Bukan urusan saya. Tanpa Bik Na, Akas, dan Ombai rumah itu tidak akan sama.

Sudah lewat lebih dari belasan tahun dan rumah itu selalu berhasil memaksa saya untuk mengingatnya. Betapa saya selalu merindukan rumah tersebut. Kerinduan yang tidak akan pernah ada pelampiasan. Kerinduan akan kenangan-kenangan yang sudah pergi. Kerinduan yang hanya akan jadi kerinduan karena saya sadar itu tidak bisa terulang lagi. Kerinduan yang permanen. Lalu apa yang saya rindu? Hal-hal kecil dan simpel saja. Hal-hal yang dulu tidak saya sadari bahwa akan berarti.

Saya rindu duduk di ruang tamu bersama Akas (kakek) di pagi hari. Kami berdua sibuk membaca Buana Minggu. Koran harian saat itu. Ada warna pinknya kalau tidak salah di logo korannya. Saya tidak tahu Akas suka membaca rubrik apa. Tapi saya selalu membaca rubrik hal-hal yang aneh tapi nyata. Entah apa judul rubriknya, tapi seperti itulah gambaran isinya. Saya baca tentang anak perempuan yang tidak bisa terkena air karena kulitnya akan langsung melepuh. Dia tidak bisa main hujan, kasihan. Bahkan dia tidak bisa menangis karena akan menyakiti dirinya sendiri. Saya juga baca tentang orang yang tidak bisa berekspresi. Senang, sedih, marah, kesal, semua dengan raut wajah yang sama. Ada kelainan di syaraf wajahnya diagnosa dokter. Dunia sudah aneh buat saya sejak saat itu. 

Saat santai bersama Akas setiap pagi, kadang saya ikut-ikutan merokok seperti Akas. Rokok yang aneh kata saya saat itu. Tidak sama seperti rokok filter milik Papa. Rokok akas  dilinting sendiri. Kertas rokok yang terbuat entah dari daun apa kemudian diisikan tembakau sesuai selera. Banyak atau sedikit terserah kita. Tapi Akas selalu kasih sedikit sekali untuk saya. Padahal simpanan tembakaunya yang ada di satu dompet khusus penuh terisi. Setelah dilinting kemudian rokok dibakar. Yang paling saya suka dari rokok ini adalah harumnya. Keharuman yang tidak akan mungkin didapat oleh rokok-rokok berfilter (mungkin, entahlah saya tidak pernah mencoba rokok berfilter). Lucunya saya dan Akas sangat menikmati momen pagi ini. Tidak ada larangan keras dari beliau. Akas hanya berpesan jangan banyak-banyak tembakaunya. Tapi anehnya saya tidak merasa sebagai perokok. Karena memang bukan. Bagi saya, saat itu adalah waktu menikmati tembakau asli yang dibakar. Menikmati harumnya. Dan saya benar-benar rindu harumnya. Saya belajar mencintai sebuah nilai-nilai klasik sejak saat itu.


Saya rindu Bik Na (adik Mama). Suaranya yang khas. Sikapnya yang supel. Selalu ceria. Cerewet luar biasa. Saya rindu suapannya yang penuh dan komplit di tiap sendok yang masuk ke mulut saya. Jago masak keluarga. Saya rindu sambal terasinya yang diberi sedikit gula. Ada juga sambal terasi yang dia buat khusus untuk Ombai. Sambal terasi ikan namanya. Sambal terasi yang dicampur dengan suwiran ikan goreng kemudian diulek kembali yang kemudian suka saya cicipi juga karena enak ternyata. Saya rindu mie goreng yang dijadikan mie rebus buatan Bik Na. Sampai sekarang tidak pernah berhasil saya duplikat rasanya. Mungkin rasa itu cuma ada di kenangan saja. Tidak akan bisa sama.


Saya rindu kamar Bik Na. Kamar di lantai dua rumah tua itu. Kayu saja lantainya. Kasur dan ranjang besar hampir sebesar kamar. Hanya menyisakan sedikit ruang untuk lemari. Di dinding kamar ada rak buku dari papan melintang lurus. Banyak buku di sana. Di sana saya temukan Noni. Pernah saya temukan juga novel dewasa. Ada tape recorder tua di kamar itu. Setia memutar lagu-lagu hits di zamannya. Zaman mudanya Bik Na. Tapi saya suka lagu-lagu itu. Dulu saya hapal semua. Ada penyanyi wanita kembar dengan suara mendayu-dayu. Saya lupa nama mereka. Rambutnya keriting mengembang. Suaranya membuat pilu. Saya merekam ingatan akan melankolis dan sendu dari lagu-lagu yang diputar di kamar Bik Na.


Ah ya, di kamar itu juga ada jendela. Saya rindu jendela itu. Angin masuk dari sana. Tidur dengan jendela dibuka enak sekali. Angin sepoi-sepoi meniup wajah. Tidak kencang seperti kipas angin. Tidak dingin seperti AC. Itu sejuk. Dari jendela itu juga saya bisa melihat dunia. Dunia kecil di gang kecil. Bukan pemandangan indah yang terpampang di sana. Hanya seng dan genting tetangga. Hanya atap-atap rumah yang berdempetan. Tapi dari jendela itu saya bisa melihat apakah tukang bakso langganan kami sudah datang atau belum. Jam 11 biasanya dia sudah memukul-mukul mangkok bakso sebagai pemberitahuan kepada seluruh penghuni gang. Kalau sudah terlihat dari jendela, segera saya berlari ke bawah menyambutnya. Pesan semangkok baksonya saja. Kecap yang banyak hingga hitam. Kemudian sambal dan saos yang banyak. Kadang saya makan dengan nasi. Cara yang diajarkan juga oleh Bik Na. Ya, saya kenal vetsin di sana.

Saya rindu Ombai. Ombai yang tidak pernah marah. Ombai dengan rambut panjangnya yang lebih dari sepinggang. Rambut yang dulu hitam bercampur putih kemudian menjadi putih semua. Tidak ada poni. Semua disisir ke belakang kemudian digelung, rapi, walau hanya dengan tangan. Sanggul kecil saja karena tipis rambutnya. Ombai dengan kebayanya yang selalu bermodel sama. Motif saja pembedanya. Selalu berpasangan dengan kain. Tidak ada kaos. Tidak ada celana. Setiap hari itu penampilannya. Ombai yang putih kulitnya seperti milik Mama. Ombai yang wangi karena rambutnya yang setiap hari ia olesi minyak urang-aring. Ombai yang penuh dengan bintik-bintik seperti kutil kecil di wajahnya. Ombai yang tidak saya tangisi kepergiannya karena entahlah, mungkin saya sudah pasrah daripada melihat Ombai terus sakit di masa tuanya.

Lalu ada sumur itu. Sumur di belakang rumah yang jadi satu-satunya sumber air di rumah Ombai. Air minum, air cuci, air mandi. Sumur yang harus dibagi dengan 3 tetangga yang lain. Sumur tua dengan pinggiran licin dan berlumut. Sumur tua dengan air jernih dan segar. Tempat mandi semasa kecil. Dituang air dari atas oleh Bik Na dengan ember timba untuk membersihkan sisa sabun sekaligus shampo di badan.


Bagaimana saya bisa tidak rindu sementara rindu itu adalah rindu terpendam selamanya. Rindu yang tidak akan pernah tersampaikan kecuali lewat doa terhadap mereka orang-orang tercinta yang kini telah tiada. Mereka yang telah memberi masa kecil dan remaja yang luar biasa.



The echoes and silence,
patience and grace and all of these moments i'll never replace.
Fear of my heart absence of faith, 
all i want is to be home. All i want is to be home.
People i've loved with no regrets. Some might remember, some might forget.
Some of them livin', some of them dead. All i want is to be home 
(Home, Foo Fighters)